SETIA PADA PERKARA-PERKARA KECIL

AMSAL 19:22a; LUKAS 16:10

Kesetiaan adalah sebuah kata yang sangat penting dan diharapkan banyak orang, namun pada kenyataannya bukan merupakan hal yang mudah untuk dimiliki dan dilakukan. Orang dengan mudah menuntut kesetiaan kepada orang lain, namun belum tentu ia sendiri dapat berlaku demikian. Suatu waktu, ada seseorang Pria yang menyatakan perasaan cintanya kepada seorang gadis. Kemudian, sang gadis pun mengatakan bahwa ia sebelumnya sudah pernah beberapa kali berpacaran dan selalu putus, dia ingin pria yang setia. Belum selesai si gadis berbicara, Sang pria pun dengan semangatnya menyela dan berkata, “itu tidak akan terjadi pada kita, saya akan selalu setia kepadamu.” Sang gadis terpesona dengan keseriusan pria ini, sehingga akhirnya mereka resmi berpacaran. Beberapa hari kemudian, ketika mereka sedang makan malam bersama, sang Pria bertanya kembali kepada sang gadis mengapa ia selalu diputuskan oleh pacar-pacar sebelumnya? Gadis tersebut berkata “bukan mereka yang putusin aku, tapi aku yang putusin mereka semua” Kagetlah pria tersebut. Ilustrasi ini mengajarkan betapa mudahnya kita menuntut kesetiaan dari orang lain, namun kita sendiri tidak mampu menunjukkan kesetiaan kita. Kesetiaan adalah sebuah kata yang mudah diucapkan oleh bibir, namun sulit untuk dilakukan.

Penulis Amsal menuliskan bahwa “sifat yang diinginkan pada seseorang adalah kesetiaannya”. Sifat atau karakter ini selalu ingin kita lihat ada pada orang lain dalam hubungannya dengan kita. Kita berharap berada dan berteman dengan orang yang setia kepada kita. Namun, tidak banyak juga orang yang menginginkan sifat itu ada pada dirinya sendiri.  Penulis Amsal menuliskan ini, bukan semata-mata agar kita MENCARI orang yang setia, namun MENJADI orang yang setia. Bukankah kita lebih suka Mencari orang yang setia, daripada Menjadi orang yang setia?

Kalau mau jujur, bisa jadi karakter kesetiaan bukanlah sesuatu yang menjadi prioritas untuk dikejar. Pada umumnya, kebanyakan orang, bahkan anak-anak muda, lebih mengejar atau fokus untuk mengembangkan prestasi dan kekayaan dibandingkan karakter (khususnya kesetiaan). Banyak orang rela bekerja keras mengeluarkan banyak tenaga, waktu dan bahkan biaya untuk mengembangkan kekayaan materi dan prestasinya, namun dia tidak menghabiskan energi dan waktu untuk membangun dan mengembangkan kekayaan karakternya (kesetiaan). Baginya, kekayaan materi dan prestasi jauh lebih bernilai daripada karakter kesetiaan. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa orang cenderung terlebih dahulu melihat secara kasat mata bagaimana dengan kekayaan materi dan prestasinya. Namun, semua kekayaan materi dan kekayaan prestasi yang engkau miliki akan hancur dan menjadi tak bernilai oleh karena “kemiskinan karakter” atau ketidaksetiaan yang kita miliki. Lihatlah belakangan ini, cukup banyak orang kaya yang dihina/direndahkan oleh karena karakter atau kesetiaan yang buruk. Sekalipun dia orang kaya, namun dia tidak dihormati oleh karena karakter yang buruk. baru-baru ini saja ada seorang yang sangat berpendidikan dan memiliki sebuah posisi yang sangat baik (tertinggi) di sebuah universitas, namun semua prestasi dan jabatan tersebut menjadi hancur dan tidak berguna oleh karena satu masalah, isu plagiarisme, karakter yang buruk. Oleh sebab itu, jangan sampai kita terlalu sibuk dan fokus mengembangkan kekayaan materi dan prestasi, namun kita tidak mengembangkan kekayaan karakter, yakni kesetiaan. Ketika kita berhasil membangun dan mengembangkan kesetiaan kita, niscaya itu akan semakin bermanfaat dan berdampak dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kesetiaan merupakan sebuah dasar atau pondasi dari karakter-karakter yang lainnya. Mudah untuk menemukan orang yang baik, yang jujur, ramah/sopan, dll. Namun tidak mudah untuk menemukan orang yang setia dalam kebaikannya, kejujurannya, maupun kesopanannya. Seseorang bisa saja berbuat baik dan jujur untuk hari atau besok, namun belum tentu dia kan tetap baik dan jujur pada minggu depan atau bulan kedepan. Hari ini seseorang bisa jujur, namun besok belum tentu dia jujur. Maka, benarlah pernyataan bahwa mudah menemukan orang yang baik dan jujur, namun sulit menemukan orang yang setia dalam kebaikan dan kejujurannya. Fakta ini juga menegaskan bahwa kesetiaan menjadi dasar atau pondasi dari karakter-karakter yang lain. Nilai kejujuran kita akan semakin bernilai jika dihiasi dengan kesetiaan, bahwa kita berkarakter jujur bukan hanya sewaktu-waktu, namun kita konsisten menunjukkan kejujuran kita. Kebaikan kita akan semakin bernilai dan tidak mudah dilupakan oleh orang jikalau kebaikan kita dihiasi dengan kesetiaan, bukan untuk 1-2 hari saja kita menunjukkan kebaikan kita, namun kita konsisten dan tulus menunjukkan kebaikan kita.

Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa hendaklah kita tidak terlena untuk fokus mengembangkan prestasi dan kekayaan materi, dan lupa untuk mengembangkan kesetiaan kita. Kita perlu menyadari bahwa:

 

  1. Fokuslah menjadi orang yang setia, bukan mencari orang yang setia.

Betapa mudahnya kita menuntut orang lain untuk setia kepada kita, namun pada saat yang bersamaan kita tidak menunjukkan kesetiaan kita. Kita lebih suka mempermasalahkan kesetiaan orang lain namun kita tidak mempermasalahkan kesetiaan kita. Ingatlah bahwa, Penulis Amsal ini bukan mendorong kita untuk mencari dan berteman pada orang yang Setia, namun ia sedang mendorong agar sifat yang diinginkan orang, yakni kesetiaan, itu ada dan terpancar di dalam hidup kita.

 

  1. Kesetiaan bukanlah karakter yang muncul secara instan, melainkan melalui sebuah Proses.

 ada begitu banyak orang yang begitu mudahnya berdoa agar Tuhan memberikan kesetiaan kepada kita atau menjadikan kita sebagai orang yang setia. Doa tersebut tidaklah salah. Namun, hal itu tidak terjadi secara instan atau simsalabim. Kita tidak hanya berdoa agar Tuhan menjadikan kita seorang yang setia, namun kita juga harus mengerjakan apa yang kita doakan. Artinya, jawaban doa anda agar Tuhan menjadikan kita setia justru muncul dan terbentuk melalui respon atau usaha kita dalam keseharian kita.  Tuhan bekerja membentuk kita di dalam keseharian hidup kita, melalui apa yang kita kerjakan sehari-harinya. Kesetiaan tidak dibentuk selama sehari atau seminggu, dia dibentuk melalui proses waktu yang cukup panjang. Oleh sebab itu, tidak ada pilihan lain, selain anda menjalani proses pengasahan karakter anda setiap harinya. Apakah anda ingin tahu apakah Tuhan sudah menjawab doa anda agar menjadikan anda setia? Jawabannya terlihat ketika anda melihat bagaimana karakter anda sendiri di dalam keseharian anda. Kalau anda merasa belum mampu menunjukkan kesetiaan anda, berarti anda masih sedang terus di proses. Apakah ada durasi waktu pelatihan/pengasahan kesetiaan ini? Jawabannya: selama seumur hidup kita. Karakter kesetiaan itu akan dibentuk dan diuji seumur hidup, bagaimanapun kelak kehidupan kita, apakah kaya, miskin berprestasi tinggi atau tidak, karakter kesetiaan akan diasah dan diuji disegala waktu/usia, segala tempat, dan segala keadaan.

 

  1. Motif kesetiaan: Ketulusan atau Modus?

Motif dalam kesetiaan dapat menentukan proses, durasi waktu, dan hasilnya itu sendiri. Tak sedikit ditemui kesetiaan yang bermotif sebuah modus atau ada keinginan terselubung (upah) yang diharapkan melalui kesetiaannya. Orang model seperti ini, hanya mau setia sejauh modus atau upahnya itu sudah tercapai atau belum? Ketika sudah tercapai, dia akan berhenti. Kalau dia tidak dapat, dia juga bisa berhenti. Contoh: seorang pelajar yang diiming-imingi hadiah yang besar (misalnya: motor atau mobil) jikalau ia mampu meraih prestasi yang diinginkan orang tuanya (menjadi juara). Hal ini pada satu sisi bisa menjadi motif yang baik. Dengan iming-iming ini, seseorang menjadi rajin belajar dan bekerja keras, dia setia belajar setiap hari dan mengikuti berbagai macam Les atau pelajaran tambahan. Buah dari kesetiaannya itu adalah dia menjadi juara dan mendapatkan hadiahnya. Namun, oleh karena dia sudah mendapatkan hadiah tersebut, kerajinan atau kesetiaannya untuk belajar mulai mengendur dan makin lama semakin hilang. inilah yang dimaksudkan sebuah kesetiaan yang bermotifkan sebuah modus dan bukan ketulusan. Kesetiaan model ini hanya bersifat sementara dan dapat hilang sewaktu-waktu. Namun jika kesetiaan kita bermotifkan ketulusan, maka itu akan berumur panjang dan konsisten. Motif kesetiaan yang tulus justru akan semakin memperkuat karakter kita, bukan melemahkan.

 

  1. Kesetiaan mulai diasah melalui kesetiaan terhadap hal-hal kecil.

Oleh karena kesetiaan adalah sebuah proses pembentukan karakter yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar, maka kesetiaan tidak dimulai dengan hal-hal yang besar, namun dimulai dari hal-hal yang keci. Ibarat seorang olahragawan atau binaragawan yang berlatih angkat beban. Untuk membentuk massa otot yang besar, seorang atlet binaragawan tentu saja tidak akan langsung diberikan beban barbel yang berat, ia akan memulai dengan beban dengan berat yang ringan terlebih dahulu.Ia akan membiasakan diri dulu untuk angkat beban yang ringan untuk jangka waktu yang cukup lama sebelum mulai meningkatkan level bebannya. Mengapa harus dimulai dari beban yang ringan dulu? Pertama, agar itu tidak mencederai kita. Apabila kita langsung menggunakan beban yang berat, itu akan berpotensi mencederai kita. Kedua, untuk melatih dan mengasah kita agar terbiasa dengan hal-hal yang kecil sehingga otot kita mulai naik level mampu mengangkat yang lebih berat lagi. Demikian juga dengan karakter kesetiaan kita, yang dibentuk justru diawali dengan perkara-perkara kecil terlebih dahulu. Kalau kita tetap setia dalam kebiasaan/perkara-perkara kecil, maka kita akan terbiasa dan mampu melakukan hal-hal yang besar.

Salah satu persoalannya adalah kadang-kadang kita malas atau enggan memulai dengan hal-hal yang sederhana atau kecil. Kita lebih tertarik jika kita langsung melakukan hal-hal atau pekerjaan yang besar. Seringkali kita menganggap enteng perkara-perkara yang kecil yang kita kerjakan dan berpikir bahwa itu tidak akan membawa dampak yang signifikan. Padahal, dari hal-hal yang kecil itulah energi dan karakter kita semakin kuat. Untuk hal yang kecil saja kita tak mampu, apalagi untuk hal-hal yang besar? Saya teringat film Karate Kid, ketika seorang anak ingin belajar Kung fu kepada Jackie Chan. Jackie Chan bersedia mengajarnya. Sang anakpun mengawali latihannya dengan berlatih memukul orang-orangan kayu. Hari demi hari, minggu demi minggu, latihannya hanya itu dan tidak pernah berubah. Ia mulai bosan dan kesal oleh karena latihannya hanya seperti itu saja terus, latihan yang terlalu ringan menurutnya. Ia ingin segera berlatih dengan latihan yang keras dan lebih banyak jurus-jurusnya. Dan ia pun komplain kepada Jackie chan, gurunya. Dan akhirnya Gurunya mulai “menghajar” atau mendidik dia dengan keras, yang membuat anak itu kesakitan dan ketakutan oleh karena tidak mampu melawan sang guru. Tapi, akhirnya ia diajarkan bahwa latihan kecil yang setiap hari diulangnya itu bukan latian yang tidak berguna. Justru itu adalah yang paling mendasar yang harus dibentuk. Latihan kecil itu justru melatih otot dan kekuatan tangannya sebelum masuk ke latihan-latihan berikutnya yang lebih berat. Kalau dia tidak membiasakan diri dengan latihan ringan, dia tidak akan mampu melakukan latian yang lebih besar dan berat.

Demikian juga dengan kita, Allah membentuk kita melalui hal-hal yang kecil dulu. Ia mau melatih kesetiaan kita dengan memberikan hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Jangan kita menganggap sepele hal-hal yang kecil dan ringan, dan menganggap bahwa hal yang kecil itu tidak mempunyai dampak yang signifikan untuk kita. Justru sebaliknya, hal-hal yang kecil tersebut akan terbentuk menjadi pondasi kita yang kuat dalam hal melakukan hal-hal yang besar.

Allah mau mempercayakan kepada kita perkara-perkara yang besar kepada kita. Ia mau pakai kita. Namun, Allah juga tidak sembarangan mempercayakan hal-hal besar tersebut kepada kita. Sebab Ia tahu, Kita akan bisa hancur oleh karena ketidakmampuan kita atau ketidaksetiaan kita melakukan hal-hal yang besar sebelum waktunya kita mampu. Oleh sebab itu, Allah melatih terlebih dahulu dengan mempercayakan hal-hal kecil dahulu baru kemudian Ia mempercayakan hal-hal yang besar.

 

  1. Nilai atau kualitas kesetiaan diukur pada kesetiaan kita itu sendiri, bukan pada besar atau kecilnya perkara yang dilakukan.

Apa yang saya maksudkan disini adalah, bahwa prestise atau kualitas sebuah kesetiaan seseorang bukanlah diukur dari kemampuan dia melakukan hal yang kecil atau besar, namun terletak pada konsistensinya. Apabila seseorang begitu konsisten dan setia melakukan hal-hal yang kecil, dia juga tetap bisa disebut sebagai seorang yang setia, ketimbang seseorang yang melakukan hal yang besar namun dia tidak setia melakukannya. Mengapa saya katakan begini? Sebab tidak dapat dipungkiri bahwa manusia punya gengsi atau merasa lebih bernilai ketika dia mampu melakukan hal yang besar. Padahal, bukan itu yang menentukan kualitas kesetiaan seseorang. Kualitas kesetiaan seseorang itu justru dilihat dari kesetiaan atau konsistensi dia melakukan hal-hal yang kecil atau besar. Tentu kita ingat kisah hamba dengan 5,2, dan 1 talenta. Kita tahu bahwa hamba dengan 5 dan 2 talenta berhasil menyenangkan tuannya dan dianggap sebagai hamba yang setia, sedangkan hamba dengan 1 talenta tidak dinilai sebagai hamba yang setia dan malah marah kepada tuannya. Persoalan disini bukan besar atau kecilnya jumlah talenta (5, 2, 1) melainkan apakah kita setia melakukan, apapun dan berapapun talenta yang dimiliki? Apakah kita setia melakukan hal yang dipercayakan kepada kita? Jelaslah bahwa kualitas kesetiaan seseorang itu bukan diukur dari besar atau kecilnya perkara yang telah dikerjakan, namun terletak kepada bukti konsistensi atau kesetiaan terhadap apapun yang dipercayakan dan dikerjakan kepada kita,

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berkenalan dengan Jangkar KehidupanKarena mengenal satu sama lain itu indah.