Markus 14:12-16

Ay12,Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah,murid-murid Yesus berkata kepada-Nya: “Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?”.

Ay13,Lalu Ia menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan:”Pergilah ke kota; di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia.

Ay14,dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: di manakah ruangan yang disediakan bagi-Ku untuk makan Paskahbersama-sama dengan murid-murid-Ku?.

 

Ay15,Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!”.

Ay16,Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.

 

Sempurna. Tidak berdaya. Terkutuk.

Dari 2.000 tahun silam kemudian, itulah satu-satunya kata yang saya pikirkan untuk menggambarkan pusat pesta paskah, anak domba dikorbankan di bait Allah. Setiap tahunnya para gembala membawa anak domba mereka ke Yerusalem. Mereka harus membawa yang sempurna, tanpa cacat atau sakit sama sekali. Semua anak domba, tidak berdaya. Mereka ditakdirkan – menuju kematian tanpa penangguhan hukuman. Apa yang Yesus pikirkan, saya ingin tahu, hari terakhir sebelum kematian-Nya sendiri? Dia mungkin menghabiskannya dengan mengajar di bait suci, – domba-domba dan tangisan dan bau darah domba ada di sana di depan-Nya. Murid-muridnya sendiri pergi untuk membeli dan mengorbankan salah satu makhluk kecil ini, dan kemudian membawanya pergi untuk dipanggang pada perjamuan malam nanti. Apakah mata Yesus melihat ke dalam mata anak domba itu, melihat gambaran-Nya sendiri dalam miniatur?

Sempurna, ya. Manusia yang sempurna, tanpa dosa atau keserakahan atau kecemburuan atau kekerasan. Seseorang yang menuruti hati Allah semata, seperti Daud, leluhurnya – seorang yang dikenan Allah sendiri, karena Ialah Allah yang menjadi manusia. Tidak ada cacat di dalam diriNya. Ia bisa diterima untuk berkorban. Tidak berdaya? – baik, apakah ya atau tidak. “Apakah kamu berpikir bahwa Aku tidak dapat memohon kepada Bapa-Ku, dan Ia akan segera mengirim Aku lebih dari dua belas ribu pasukan malaikat?”. Tetapi Aku tidak berdaya untuk melakukan itu, karena “bagaimana Kitab Suci akan dipenuhi, sebab haruslah demikian?” (Matius 26:53-54). Yesus tidak akan menolong diri-Nya, jika itu berarti gagal menyelamatkan kita. Cintanya bagi kita manusia berdosa, membuatnya tidak berdaya.

Terkutuklah – baiklah, ya. Tidak pernah ada dalam sejarah dunia, peristiwa yang demikian. Sehinga, ditakdirkan untuk terjadi karya pengorbanan agung Kristus. Allah Bapalah yang menghendakinya, Kasih Yesus mendorong-Nya untuk menyelamatkan manusia. Roh Kudus berjanji, melalui semua firman Allah dalam Perjanjian Lama. Yesus akan mati untuk menyelamatkan semua manusia berdosa. Namun … dan belum! Domba-domba di kuil itu sebentar lagi akan menanti perjamuan makan malam, ada pesta besar untuk orang-orang yang sudah dibebaskan oleh Tuhan. Yesus, Anak Domba Allah sendiri, telah menjadi pusat pesta yang terbesar. Merayakan kebebasan yang telah dimenangkanNya bagi kita, oleh kematian dan kebangkitan-Nya. Melalui tubuh dan darahNya yang diberikan dengan cuma-cuma, kita beroleh kehidupan yang baru dan sukacita kekal. Dia bukan hanya Anak Domba kita, tetapi Tuhan atas hidup – Juruselamat kita.

DOA: Bapa yang baik, terima kasih karena menganugerahkan anak tunggal-Mu Yesus bagi kami manusia berdosa. Amin.

Pertanyaan Refleksi:

Pernahkah anda memelihara hewan untuk dijadikan makanan? Apakah sulit atau mudah melakukannya?

Berbeda dengan anak domba, Yesus memilih untuk menjadikan diri-Nya pengorbanan bagi kita. Apa yang dikatakannya tentang betapa Ia mencintai Anda secara pribadi?

Ketika beribadah, hal apakah yang anda pikirkan? Bagaimana Anda mengingat dan mengasihi Yesus?

Bacaan Alkitab: Imamat 25 Markus 11: 1-18

Editor / Translate: Azer

Disadur dari: LHM Devotion

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berkenalan dengan Jangkar KehidupanKarena mengenal satu sama lain itu indah.