PIKIRAN-NYA ADALAH PIKIRANKU: MEMILIKI PIKIRAN KRISTUS

 

“Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi”

(Kolose 3:2)

Proyek anugerah keselamatan Allah untuk orang percaya adalah proyek yang panjang dan akan terus berlangsung sejak kita diselamatkan sampai kita menghadap Bapa di Sorga kelak. Proyek ini dapat disebut sebagai proyek transformasi (perubahan), yakni perubahan  dari manusia lama menjadi manusia baru. Pertobatan orang Kristen yang sejati haruslah disertai dengan sebuah proyeksi, yakni suatu pertobatan yang disertai dengan komitmen untuk tidak lagi hidup dibawah perbudakan dosa dan yang dilengkapi dengan proyeksi baru untuk hidup berkenan kepada Allah. Agar proyeksi ini tercapai, Roh Kudus bekerja di dalam kita, menolong kita untuk mengubah pola pikir kita. Dengan pola pikir yang diubahkan, maka orang Kristen dapat hidup selaras dengan pikiran dan kehendak-Nya. Dengan demikian, salah satu ciri murid yang bertumbuh adalah murid yang pikirannya selaras dengan pikiran-Nya.

Paulus mengajarkan bahwa karena kita sudah mengalami kebangkitan bersama Yesus  atau Kelahiran baru (Kol 3:1,3) maka kita harus memikirkan perkara yang di atas (sorgawi) dan membiarkan sikap kita ditentukan oleh-Nya. Kita harus menilai, mempertimbangkan, dan memikirkan segala sesuatu dari sudut pandangan kekekalan dan sorga. Tujuan dan sasaran kita hendaknya mencari hal-hal rohani (Kol 3:1-4), melawan dosa (Kol 3:5-11), dan mengenakan watak atau karakter Kristus (Kol 3:12-17). inilah yang dimaksud dengan memiliki pikiran Kristus sebagaimana Rasul Paulus tegaskan kepada jemaat di Korintus:  “…kami memiliki pikiran Kristus.” (1 Korintus 2:16b).  Memiliki pikiran Kristus berarti kita  “…menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,”  (2 Korintus 10:5b), berarti pikiran kita sepenuhnya dipimpin, dituntun, diarahkan dan dikendalikan sepenuhnya oleh Roh Kudus. Tentu saja, untuk memiliki pikiran Kristus ini memerlukan proses dan waktu yang tidak sebentar. Mau tidak mau, kita harus terus belajar kebenaran Firman Tuhan, dan belajar melakukannya dalam ketaatan yang tulus. Kita tidak bisa memisahkan diri dari pekerjaan Roh Kudus dan kebenaran firman-Nya (Alkitab), agar pikiran-Nya menjadi pikiran kita.

Sudahkan pikiran Kristus menjadi pikiran kita? Sudahkah kehendak Allah menjadi hasrat terbesar kita? Sudahkah keinginan Allah menjadi keinginan kita? Tidak sedikit kita menuntut keinginan kita dipenuhi Tuhan, padahal seharusnya keinginan Allah lah yang harus kita penuhi. Murid Kristus yang sejati adalah murid yang menjadikan pikiran-Nya (Pikiran Kristus) menjadi pikirannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berkenalan dengan Jangkar KehidupanKarena mengenal satu sama lain itu indah.