Acapkali orang yang ragu-ragu, kritis, tidak percaya dalam ranah petualangan spiritualitas atau imannya, diberi stigma sebagai orang yang krisis spiritual, kurang atau lemah iman. Imbasnya, tuduhan-tuduhan negatif sebagai orang yang berdosa (yang belum bertobat), orang yang tidak mengasihi Tuhan sungguh-sungguh, tidak percaya Tuhan, orang yang dihukum dan tidak didengar doanya, kerapkali disematkan kepada orang yang berada diposisi yang dimaksudkan. Dampak lain dari stigma ini adalah terpenjaranya “kebebasan berekpresi” dari seorang yang memang sedang menggumuli imannya secara kritis atau bahkan sedang “lemah” imannya. Bumbu-bumbu pengajaran yang tidak seimbang bahwa orang Kristen tidak boleh kuatir, tidak boleh ragu, dan harus memiliki positive thinking (yang dipahami secara keliru), acapkali telah memenjarakan kebebasan “korban” untuk mengungkapkan kegelisahan atau ratapan spiritualitasnya. Kerapkali, Kegelisahan spiritual diidentikan dengan kemiskinan spritual. Orang yang kuat imannya, seringkali secara tidak sadar terperangkap dalam sebuah penghakiman kepada orang yang lemah iman. Tidak sedikit orang yang merasa kuat imannya, sibuk mentertawakan, menghakimi, dan menjatuhkan orang yang sedang mengalami kegelisahan spiritual. Akibatnya, tak sedikit orang menjadi tidak jujur atas kondisi spiritualitas dan psikologis yang sesungguhnya sedang rapuh, demi tetap terlihat baik dan tidak aneh di mata orang normal. Padahal, sikap ke-pura-pura-an atas kerapuhannya justru menyiksa orang tersebut. Ia seolah-olah menemukan sebuah oasis di tengah-tengah padang gurun. Padahal, itu hanya sebuah fatamorgana atau ilusi yang nampaknya memberi kesejukan di kala kekeringan, namun sesungguhnya ia tetap mengalami kekeringan.

Saya mempelajari beberapa tokoh Alkitab, dan melihat bahwa sesungguhnya ada ruang terbuka bagi keragu-raguan, sikap kritis, kegelisahan dan kerapuhan iman, dan sesungguhnya Allah tidak anti dengan hal-hal tersebut. Hal-hal demikian tetap dapat dilihat di dalam “bingkai Iman”. Salah satu contoh sederhana adalah Abraham. Tentu saja, kita tahu bahwa Abraham dikenal sebagai Bapa orang beriman. Penyematan gelar sebagai seorang yang beriman adalah sebuah konklusi (kesimpulan) dari seluruh perjalanan hidup spiritualitasnya bersama-sama dengan Allah. Salah satu contoh kisah yang seringkali disuguhkan kepada orang Kristen untuk menonjolkan kekuatan imannya adalah kisah Abraham (hampir) mengurbankan Ishak sebagai korban bakaran. Melalui narasi ini, kita diajarkan sebuah teladan iman Abraham yang tidak kuatir, tidak ragu-ragu kepada Allah, tidak mengkritisi Allah, sehingga Abraham mengalami kehdiupan yang diberkati Tuhan. Model inilah yang seringkali diangkat menjadi platform iman yang ideal, dan menjadi rujukan konsep anti keragu-raguan, sikap kritis, dan kegelisahan atau kerapuhan spiritualitas. Dan banyak lagi contoh-contoh lain yang dirujuk untuk membentuk sebuah konsep iman yang anti kegelisahan spiritual.

Kendati demikian, Alkitab juga secara gamblang memberi ruang dan menarasikan fakta keragu-raguan, sikap kritis, dan kegelisahan spiritual Abraham. Dalam Kitab Kejadian 15, beberapa kali dikisahkan keragu-raguan atau kegelisahan Abraham (Kej. 15:2,3) terhadap janji Allah. Bahkan, ia melayangkan pertanyaan kritis kepada Allah ” Ya, Tuhan Allah darimanakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya? (Kej 15:8). Menariknya, pertanyaan kritis Abraham ini diajukan setelah statement narator “Lalu percayalah Abram kepada Tuhan” (Kej:15:6). Artinya, sekalipun Abraham telah percaya, dia tetap kritis dan mempertanyakan Tuhan. Lebih lanjut lagi, dalam Kejadian 17:17, narator mengemukakan keragu-raguan atau ketidakpercayaan Abraham (Abraham tertunduk, tertawa, dan berpikir mungkinkah Sara melahirkan?), sikap yang senada juga ditunjukkan Sara. Naras-narasi “negatif” ini, tetap harus dilihat di dalam kesatuan bingkai konklusi iman Abraham “Bapa orang beriman”. Jika Kita mengabaikan fakta sejarah “negatif ” ini, berarti kita telah melihat sejarah spiritualitas Abraham secara tidak seimbang. Faktanya, Alkitab tidak hanya mengemukakan “iman positif” Abraham, namun juga hal-hal negatif dari petualangan imannya. Dengan demikian, “Bingkai iman” Abraham sesungguhnya memuat kekuatan dan kerapuhannya sebagai suatu kesatuan dalam petualangan iman. Tidak hanya keberanian atau keyakinan yang kokoh, namun juga keragu-raguan dan kegelisahan, merupakan bagian dari iman itu sendiri.

Hmm…., bukankah kita seringkali diajar “tidak usah ragu-ragu, tidak usah kritis atau mempertanyakan cara Tuhan menepati janjiNya?” Pada satu sisi, pengajaran ini merupakan sesuatu yang baik karena dapat memotivasi dan membangun optimisme yang positif di dalam perjalanan hidup dan spiritualitas orang percaya. Namun, konsep pengajaran yang secara tidak seimbang ini juga dapat mengakibatkan orang-orang yang sedang mengalami kegelisahan spiritual menjadi tidak jujur dengan keadaan dirinya, dan dapat jatuh kepada penghakiman bahwa seolah-olah Allah tidak hadir dalam kegelisahan kita. Sebagaimana fakta yang diungkapkan Alkitab, Allah memberi ruang dan kebebasan bagi Abraham untuk mengajukan keragu-raguan, kegelisahan, kritis, dan mempertanyakan Tuhan! Allah tidak anti dan memandang aneh sikap demikian. Ia memberi ruang kepada mereka yang ragu-ragu, kritis, lemah iman untuk mengekpresikan dan mengutarakan kerapuhan mereka. kerapuhan tersebut adalah bagian daripada “Bingkai Iman” perjalanan spiritualitas kita. Tentu saja, kita melihat ada ending yang indah pasca kerapuhan tersebut.

Point utama saya adalah, jelas bahwa Allah memberikan ruang dan kebebasan berekpresi terhadap keragu-raguan, kegelisahan, atau kerapuhan spiritualitas orang percaya. Kita tidak perlu berpura-pura dan menyembunyikan kegelisahan atau kerapuhan rohani kita. Berpura-pura kuat tidak menjadikan anda kuat, justru dapat membuat kita makin rapuh jikalau tidak jujur dan tidak segera diselesaikan. Hal-hal tersebut dapat dilihat sebagai bagian dari “Bingkai Iman” orang percaya yang sedang diasah, dipoles, dan diperindah oleh Allah. Keterbukaan atas fakta kegelisahan, kritis, kerapuhan yang sedang kita alami, justru menjadi moment yang penting untuk semakin mengenal Allah dan diri kita, dan dapat menjadi batu loncatan untuk memperkaya spiritualitas kita. Kegelisahan spiritual tidak selalu identik dengan kemiskinan spiritual. Ia dapat menjadi “alat” untuk memperkaya spiritualitas kita, di dalam kegelisahan spiritual kita, kita dapat semakin bertumbuh mengenal Allah.

Oleh sebab itu, jauh lebih bijak jika anda tidak cepat menghakimi orang disekitar anda yang sedang ragu-ragu, kritis, mengalami kegelisahan atau kerapuhan spiritual. Ketimbang menghakimi, lebih baik anda mendorong mereka untuk terbuka mengenai kegelisahan dan kerapuhan mereka. Mereka tidak perlu malu dan merasa rendah diri jika berada di dalam situasi yang demikian. Dorong mereka untuk “menikmati kegelisahan” tersebut bersama-sama dengan Allah, sebagai bagian dari proses untuk memperindah “Bingkai iman” mereka.