Pernahkah Saudara cemburu (dengan cara yang baik) terhadap iman orang lain? Apakah Saudara mengenal seseorang yang tampaknya tegar di atas segala cobaan hidup dan kesengsaraan kecil, dan Saudara tahu, jauh di lubuk hati Saudara, bahwa itu karena mereka bersandar pada Tuhan dalam iman sebagai Pelindung dan Pembimbing mereka?

Gagasan tentang kecemburuan sebagai hal yang baik tampaknya seperti yang dikatakan rasul Paulus di sini. Meskipun orang Yahudi telah lama menjadi “bangsa yang tidak taat dan yang membantah” (Roma 10: 21b), Paulus sungguh-sungguh memperhatikan kesehatan rohani mereka. Ketika dia melayani orang bukan Yahudi dan jumlah mereka meningkat ketika Roh Kudus memberi mereka iman, dia ingin saudara-saudari Yahudinya mendambakan — cemburu — akan apa yang dimiliki orang bukan Yahudi: yaitu iman yang benar dan abadi kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Penyelamat mereka.

Ini bukan sekedar maksud yang kosong. Bahkan, Paulus sangat bersungguh-sungguh demi pembebasan sesama orang Yahudi sehingga dia berkata dia akan menolak keselamatannya sendiri sebagai ganti mereka menjadi percaya.

“Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hokum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!”(Roma 9: 1-5).

Orang-orang Yahudi memiliki semua yang dikatakan Paulus di sini. Namun perjuangan gigih mereka demi keselamatan berdasarkan Hukum, yang diperoleh melalui perbuatan mereka sendiri, telah membutakan mereka terhadap Mesias yang dijanjikan di tengah-tengah mereka — Yesus — Saudara mereka menurut daging. Jelas sekali, Allah sebagai Manusia, Dia adalah batu sandungan yang banyak dari antara mereka tidak dapat melihat masa lalu (lihat Roma 9: 30-10: 4).
Banyak orang di dunia ini yang mengalami kebutaan serupa. Semoga hidup kita sebagai orang percaya membuat mereka cemburu karena iman yang kita miliki kepada Yesus.

DOA: Bapa Surgawi, biarlah hidup kami bersinar terang dengan iman dan kasih yang menarik orang lain kepada Yesus. Dalam Nama-Nya kami berdoa. Amin.

 

Ditulis oleh Paul Schreiber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berkenalan dengan Jangkar KehidupanKarena mengenal satu sama lain itu indah.