Hampir setiap teman yang saya miliki sedang diet sekarang. Bahkan anak-anak tetangga tidak makan camilan dalam jumlah yang banyak, karena beberapa alasan. Saya tidak tahu bagaimana dengan Saudara, tapi saya benar-benar merasa lapar saat menonton iklan pizza pepperoni di TV, makanan penutup ekstra lembut, dan limun yang ketinggalan zaman. Terlalu sering sehingga membuat saya merasa gemuk dan merasa bersalah dengan menggembar-gemborkan rencana diet dan membeli beberapa alat kebugaran.

Jika kita semua puas dengan diri kita sendiri, mungkin tidak akan butuh waktu lama sampai produk diet menghilang selamanya dari kehidupan kita. Tetapi kebanyakan dari kita tidak puas dengan diri kita sendiri. Mungkin karena semua tipe orang sangat senang memberi tahu kita tentang kesalahan yang kita lakukan. Terkadang nasihat itu gratis. Seringkali kita membayar sekitar 200 ribuan rupiah untuk mendapat hak istimewa membaca buku yang mencantumkan kesalahan kita dan memberi tahu kita bagaimana cara menyingkirkan masalah atau hambatan kita.

“Tegaskan dirimu!” “Vegetarian itu lebih asyik!” “Belajarlah untuk katakan tidak!” “Belajar untuk katakan ya!” “Kejarlah nirwana demi kesenangan dan keuntungan!” Ya, kita telah mendengar semua itu sebelumnya, lebih dari beberapa ratus kali.

Apakah Saudara puas dengan diri Saudara sendiri? Saya harap demikian, karena Tuhan menciptakan Saudara hanya satu. Saudara sangat berharga bagi-Nya, seperti kata pepatah modern “Siapa dirimu adalah pemberian Tuhan untukmu,”, dan pemberian Tuhan selalu berharga (lihat Yakobus 1:17).
Pepatah itu tentu saja berakhir dengan “Menjadi apa dirimu adalah pemberianmu kepada Tuhan.” Sementara budaya kita terpaku pada penampilan luar, saya tampaknya memiliki kasus jerawat yang parah. Saya mungkin tidak keluar dari masa remaja sampai saya berusia 40 tahun. Namun, jika kita membiarkan diri kita dilumpuhkan oleh tuntutan masyarakat, kita tidak akan punya banyak waktu untuk bekerja membuat diri kita sendiri sebagai pemberian untuk Tuhan.

Mengasihi diri sendiri bukan berarti “apa pun itu, terjadilah” dan membiarkan diri Saudara menerapkannya. Menetapkan tujuan untuk jangka pendek dan panjang membantu saya menegaskan disiplin diri dan membuat hari-hari yang lebih baik di masa depan. Juga, dalam menentukan tujuan, adalah baik untuk diingat bahwa Tuhan melihat bukan seperti yang dilihat manusia. Seperti yang tertulis dalam 1 Samuel: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16: 7b).

Saudara ingin hidup yang seperti apa? Apakah Saudara cukup mengasihi diri sendiri untuk memungkinkan terjadinya perubahan? Yesus memanggil kita untuk diri-Nya sendiri, sehingga kita dapat menjalani hidup sebaik mungkin. Dia telah memberi tahu kita, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yohanes 10: 10b-11).

Dengan karya kasih Yesus demi saya — kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya dari kubur menuju hidup baru — Dia telah membuat semua orang yang percaya kepada-Nya dengan iman menang atas hidup, dengan semua tuntutan dan harapannya. Yesus mengasihi saya, dan karena Dia mengasihi saya, saya juga bisa mengasihi diri saya.

DOA: Bapa Surgawi, kami semua dibuat menurut gambar-Mu. Ajari kami untuk mengasihi diri sendiri, bahkan ketika kami merasa tidak menarik. Dalam nama Yesus. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berkenalan dengan Jangkar KehidupanKarena mengenal satu sama lain itu indah.