Hidupku Untuk Menggenapi Mimpi Tuhan

      (Untuk Apakah Aku Ada di Dunia Ini?)

 

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:

Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! 

(Roma 11:36)

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh manusia adalah “ Untuk apakah aku ada di dunia ini?” ada banyak manusia berusaha mencari jati diri dan tujuan hidupnya dengan belajar dari dunia maupun sesama manusia (sesama ciptaan), bukan kepada Sang Pencipta (Allah). Jikalau kita ingin mengetahui tujuan sebuah kulkas dan benda lain diciptakan, maka kita harus bertanya kepada penciptanya.Hal yang sama berlaku dalam penemuan jati diri dan tujuan hidup kita; bertanya kepada Allah, pencipta kita, melalui firman Allah. Kita ada di dunia ini hanya karena Allah menghendaki kita ada. Kita diciptakan oleh Allah dan untuk Allah. Selanjutnya, sangat penting untuk memahami 2 paradigma berpikir yang akan sangat mempengaruhi perjalan hidup dan iman sebagai orang Kristen (model spiritualitas). Paradigma berpikir yang pertama adalah “Tuhan ada untuk memenuhi segala keinginanku,mimpiku,dan kehendakku” ini adalah paradigma berpikir kekristenan yang bersifat Ego-sentris. Paradigma berpikir yang kedua adalah “AKu ada untuk memenuhi keinginan,mimpi, kehendak Tuhan” Ini adalah paradigma berpikir kekristenan yang bersifat theo-sentris dan alkitabiah. Sekali lagi, masing-masing paradigma berpikir akan mempengaruhi model spiritualitas seseorang.

Perhatikan baik-baik bahaya ini: “Ketidaktahuan, ketidakpercayaan, atau penolakan kepada kebenaran bahwa kita diciptakan Oleh Allah dan untuk Allah, mengakibatkan kegagalan untuk memenuhi mimpi/visi Tuhan menciptakan dan menyelamatkan kita.” Hal ini terjadi akibat bertolak dari paradigma berpikir ego-sentris “Tuhan ada untuk memenuhi keinginan dan mimpiku”. Beberapa contoh akibat dari kegagalan ini: kita tidak menjalani hidup berdasarkan mimpi Tuhan, melainkan pada mimpi kita. Tujuan akhir hidup kita adalah kesenangan/kebahagiaan kita, bukan kesenangan Tuhan. Kita melihat dan memperlakukan Tuhan sebagai pemuas atau pemenuh kesenangan, mimpi, dan tujuan hidup kita, bukan sebaliknya bahwa kita harus memuaskan dan menyenangkan Allah. Kita lebih menginginkan agar Tuhan “menaati” kehendak kita, daripada kita menaati kehendak Tuhan. Kita akan marah kepada Tuhan jika Ia tidak memenuhi kehendak atau keinginan kita, namun kita juga tidak merasa bersalah jika kita tidak memenuhi keinginan Allah. Semua ini adalah akibat dari kegagalan kita melihat tujuan hidup kita dari sudut pandang Allah (Theo-sentris Paradigm). Akhirnya, hidup kita menjadi tidak efektif dan tidak bermakna.

Hidup menggenapi mimpi Tuhan, menyenangkan dan memuliakan Tuhan adalah prestasi terbesar yang bisa kita capai dengan kehidupan kita. Bagaimanakah kita hidup menggenapi mimpi Tuhan?Pertama, hidup menghormati dan menaati Allah. Kedua, dengan menyembahNya. Ketiga, hidup menjadi/menyerupai Kristus. Keempat, mengasihi dan melayani orang lain dengan karunia-karunia dan bakat kita. Kelima, memberitakan kepada orang lain tentang Allah. Tentu tidak mudah untuk melakukannya. Akan tetapi, Allah yang menghendakinya, Ia juga yang akan menolong kita untuk menggenapi mimpiNya. Tuhan akan memberikan kita segala sesuatu yang kita butuhkan untuk hidup menggenapi mimpi Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berkenalan dengan Jangkar KehidupanKarena mengenal satu sama lain itu indah.