Saya berasumsi bahwa banyak orang kristen sudah sering atau bahkan “bosan” mendengar kisah perumpamaan tentang Anak yang hilang di dalam Lukas 15:11-32. Narasi ini sangat terkenal dan sering diajarkan, dikhotbahkan, atau diceritakan ulang dalam bentuk drama untuk menekankan kasih, anugerah, pengampunan Sang Bapa (yang dianalogikan sebagai Allah) kepada si bungsu yang hilang (yang dianalogikan sebagai orang yang berdosa). Tidak jarang, narasi perumpamaan anak yang hilang sering digunakan dalam konteks proklamasi Injil maupun kebaktian kebangunan rohani untuk menstimulasi hati dan pikiran pendengar atau pembaca agar menyadari keberdosaannya selayaknya si bungsu yang hilang, dan kemudian datang memohon pengampunan kepada Sang Bapa yang penuh kasih, sehingga si anak yang hilang (orang yang berdosa) mengalami pemulihan dan menikmati hidup yang berkelimpahan.

Bangunan teologi atau pengajaran semacam ini tidaklah sepenuhnya salah dan tidak mengherankan jika melihat alur narasi yang disajikan oleh Penulis injil Lukas, dimana nampaknya karakter Sang Bapa dan sang anak bungsu yang hilang begitu menonjol dan dominan di dalam alur ceritanya. Tidak jarang di dalam studi biblika, Sang Bapa dilihat sebagai protagonist (tokoh utama), dan si bungsu dilihat sebagai antagonist (lawan tokoh utama atau konflik). Kendati demikian, penekanan terhadap kedua karakter yang demikian justru dapat menyembunyikan atau bahkan menghilangkan pesan penting lain yang justru terlewatkan oleh pembaca Kristen masa kini. Saya melihat dan menyebut pesan penting ini sebagai pesan yang hilang ini untuk “gereja yang hilang”. Tulisan ini tidak saya tujukan atau fokuskan kepada “si bungsu” yang terhilang atau orang yang berdosa, melainkan kepada “si sulung” yang bersama-sama dengan Bapa, namun sesungguhnya juga dapat disebut“terhilang”.

Untuk menemukan dan memahami pesan yang hilang ini, saya menawarkan “kacamata baca” atau cara membaca dan memahami perumpamaan anak yang hilang dari perspektif si anak sulung. Penawaran “kacamata baca” ini bukanlah tanpa alasan yang dapat dipertangungjawabkan. Konteks, bentuk literatur, dan alur narasinya, akan menjadi alasan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mendukung “kacamata baca” ini. Saya akan buktikan alasannya. Hal pertama yang mendasar yang harus dipahami sebagai titik berangkat memahami narasi ini adalah bahwa membaca dan menafsir Lukas 15:11-32, tidak bisa dilepaskan konteksnya dari Lukas 15:1-10. Saya melihat, konteks dan alur cerita di dalam Lukas 15:1-10 seringkali diabaikan atau ditafsir secara terpisah dengan Lukas 15:11-32. Hal kedua yang harus dipahami adalah perlunya rekontruksi (mengkontruksi ulang) siapakah protagonist dan antagonist dalam perumpamaan anak yang hilang? Sebagaimana yang sudah saya paparkan sebelumnya di atas bahwa pembaca narasi ini cenderung menjadikan Sang Bapa sebagai protagonist dan Anak bungsu sebagai antagonist, dan anak sulung mendapat peran yang “terpinggirkan.”Akan tetapi, apakah demikian gagasan yang penulis Injil Lukas maksudkan? Kembali, konteks Lukas 15 akan memberikan titik terang kepada kita, siapakah protagonist dan antagonist yang diangkat oleh Penulis?

Sekarang, mari kita kembali kepada konteks Lukas 15 terlebih dahulu agar memahami latar belakangnya mengapa Yesus memberikan perumpamaan tentang anak yang hilang, dan kepada siapa perumpamaan itu ditujukan. Penulis mengawali narasinya dengan mengemukakan kisah tentang pertemuan Yesus dengan orang berdosa dan pemungut cukai (ay. 1). Kejadian inilah yang menimbulkan protes atau sungut-sungut dari orang farisi dan ahli-ahli taurat, dan akhirnya mencela Yesus sebagai orang yang menerima orang yang berdosa. Perhatikan, 2 peristiwa inilah, pertemuan Yesus dengan orang berdosa, serta protes orang Farisi dan ahli taurat, yang melatarbelakangi ujaran 3 perumpamaan Yesus pada ayat 3-32. Ketiga perumpamaan ini, yakni tentang domba yang hilang, tentang dirham yang hilang, dan tentang anak yang hilang, adalah 1 paket jawaban Yesus untuk menegur orang Farisi dan ahli taurat. Ketiga perumpamaan ini memiliki alur narasi yang sangat mirip (namun, perumpamaan ketiga memiliki perbedaan yang mencolok, yang akan dijelaskan nanti). Maka, jelaslah setingan narasi Lukas 15 mengenai protagonist (tokoh utama) dan antagonist (lawan), bahwa Yesus adalah sang protagonist dan orang Farisi serta ahli taurat adalah sang antagonist. Berangkat dari seting ini, maka kita dapat menjawab siapakah protagonist dan antagonist dalam perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:11-32. Jawabannya, Sang Bapa adalah Protagonist, dan si Anak sulung (Bukan si anak bungsu!!) adalah antagonist. Jadi, 2 karakter utama perumpamaan anak yang hilang bukanlah sang Bapa dan si anak bungsu, melainkan sang Bapa dengan si Sulung!!. Kedua karakter perumpamaan ini menjadi analogi dan gambaran karakter dan sikap Yesus (sang Bapa) dan orang Farisi dan ahli taurat (si Sulung) terhadap orang berdosa (Si bungsu). Nah, semakin jelas kan pesan yang hilang tersebut? Bentuk literatur dan alur narasi Lukas 15:3-31 akan semakin menolong dan memudahkan kita memahami pesan di dalam Lukas 15:11-32.

Perhatikan baik-baik 2 perumpamaan awal (perumpamaan domba yang hilang dan dirham yang hilang) yang kemudian ber-transisi kepada perumpamaan Anak yang hilang. Dalam perumpamaan Domba yang hilang (ay. 4-7), Yesus hanya menekankan karakter protagonist saja, yakni Sang Gembala yang menyelamatkan 1 domba yang terhilang. Pada perumpamaan ini, Yesus tidak memberikan analogi karakter sang antagonist (Tidak ada penggambaran tokoh atau karakter yang digambarkan protes, bersungut-sungut, atau melawan ketika sang gembala menemukan domba yang hilang). Selanjutnya, dalam perumpamaan yang kedua yakni perumpamaan tentang dirham yang hilang, Yesus juga hanya menekankan kepada karakter protagonist saja, yakni perempuan yang menemukan 1 dirham yang hilang. Setali tiga uang dengan perumpamaan pertama, Yesus juga tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai tokoh atau karakter antagonist. Sama sekali tidak ada tokoh yang digambarkan yang melawan, protes atau bersungut-sungut kepada perempuan yang menemukan dirham yang hilang tersebut.
2 Perumpamaan awal ini memang sengaja diungkapkan oleh Yesus sebagai jawaban kepada orang Farisi dan ahli taurat yang protes karena Yesus bersekutu dengan orang berdosa. melalui kedua perumpamaan ini, Yesus ingin menekankan karakter diriNya (Sekaligus Bapa), yang mencari dan menyelamatkan orang berdosa. Pernyelamatan dan persekutuan dengan orang berdosa ini mendatangkan sukacita di sorga (Ay. 7 pada perumpamaan pertama, dan ay. 10 pada perumpamaan yang kedua. Tidak dilibatkannya sang antagonist pada kedua perumpamaan awal ini bertujuan agar pembaca memfokuskan perhatiannya pada karakter Protagonist (Gembala dan perempuan) yang merupakan representasi Yesus dan Bapa terhadap orang berdosa. baru kemudian pada transisi perumpamaan ketiga yakni perumpamaan anak yang hilang tokoh antagonist yakni orang Farisi dan ahli taurat ini dimunculkan dengan digambarkan sebagai “Anak Sulung”. yang mengecam kembalinya anak hilang dan protes ke Sang Bapa.

Sekarang kita masuk kepada pokok pembahasan kita, yakni perumpamaan Anak yang hilang. Penulis mengawali perumpamaan ketiga ini dengan mengemukakan perkataan awal Yesus : ”Yesus berkata lagi….” (ay.11), perkataan Yesus ini merupakan suatu transisi (perpindahan) atau suatu babak baru dari pengajaran perumpamaannya, namun tetap tidak bisa dipisahkan dari kedua perumpamaan yang sebelumnya (ay. 3-10). Pada 2 perumpamaan awal, pesannya jelas sekali mengenai karakter Bapa. Jikalau pada 2 perumpamaan awal Yesus tidak mengemukakan karakter antagonist (orang Farisi dan ahli taurat), maka pada perumpamaan Anak yang hilang, Yesus mulai menceritakan karakter antagonist, yang dianalogikan sebagai si anak Sulung. Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar lagi mengenai karakter Bapa dan si anak bungsu yang hilang di dalam perumpamaan ini, karena pada dasarnya memiliki penggambaran karakter dan pesan yang sama dengan 2 perumpamaan sebelumnya. Namun, saya ingin mengajak anda untuk melihat karakter antagonist (si Sulung) yang baru kali ini dimunculkan oleh Yesus, setelah sebelumnya tidak diungkapkan oleh Yesus. Sang antagonist (si Sulung) ini digambarkan tidak jauh berbeda dengan orang Farisi dan ahli taurat (ay.2), yang juga marah, protes kepada sang Bapa karena menerima kembali bahkan mengadakan pesta untuk si bungsu (orang berdosa). Oleh sebab itu, penekanan Yesus pada perumpamaan kali ini bukanlah pada si bungsu hilang, karena itu sudah jelas ditekankan pada 2 perumpamaan awal. Perumpamaan kali ini adalah teguran dan sindiran kepada orang farisi dan ahli taurat. justru Yesus ingin menekankan karakter si anak Sulung yang tidak menunggu, tidak mencari sang adik. Sebaliknya, ia protes kepada Bapa karena mengasihi adiknya yang berdosa. Bukankah karakter si sulung ini serupa dengan orang Farisi dan ahli taurat?karakter tidak berbelas kasihan, tidak mencari orang berdosa, tidak bersuka ketika orang berdosa bertobat, bahkan barangkali tidak mengharapkan orang berdosa bertobat? Bukankah si anak sulung ini juga dapat dikategorikan sebagai yang “terhilang”? memang, si sulung tidak di luar jangkauan sang Bapa, namun bukankah karakternya sangat kontras dengan karakter bapa? maka bagi saya, si sulung ini juga dapat disebut sebagai “anak yang hilang” yang juga membutuhkan kasih dan pertobatan. Bertobat dari cara pandang dan sikap yang keliru.

Bertolak dari narasi si sulung yang hilang, izinkan saya untuk menganalogikan si sulung sebagai “gereja yang hilang.” Penyebutan ini bukanlah sebagai suatu bentuk penghakiman bahwa gereja-gereja di muka bumi ini telah terhilang. Namun sebagai bentuk kekhawatiran semata melihat fenomena-fenomena gereja-gereja dan orang Kristen (tidak semua tentunya) yang entah sadar atau tidak sadar memiliki karakter yang mirip dengan si sulung atau orang Farisi dan ahli taurat. dalam perumpamaan anak yang hilang, Si sulung digambarkan sudah bersama-sama dengan Sang Bapa menikmati kenyamanan dan kelimpahan, namun si sulung tidak memiliki beban yang sama dengan sang Bapa. Si sulung tidak menunggu, tidak mencari, dan bahkan tidak bersukacita ketika si bungsu kembali pulang dan “bertobat.” Apakah gejala ini juga terlihat pada gereja atau orang Kristen masa kini? Saya pikir, kita dapat dengan jujur melihat fenomena ini.

Tidak sedikit saya menemui orang-orang Kristen atau gereja yang begitu menikmati “zona nyaman” di dalam gereja, sebagai orang-orang yang telah didapatkan dan diselamatkan oleh Allah, kemudian menikmati segala berkat Allah yang berkelimpahan, namun acapkali menghindarkan diri atau menutup diri terhadap kenyataan masih banyaknya orang-orang berdosa ada disekitarnya. Jikalau mau jujur, tidak sedikit orang Kristen yang lebih nyaman bersekutu didalam kumpulan “orang benar” daripada di dalam kumpulan “orang berdosa”. Tidak sedikit orang Kristen yang menghindarkan diri, merasa jijik, menutup diri, tidak bersekutu dengan orang yang dikategorikan berdosa atau “yang hilang”. Ketika bertemu dengan orang-orang yang dikategorikan seperti kelompok LGBT, penjahat, preman, pekerja seks komersial, dll, tidak sedikit orang Kristen yang merasa jijik, tidak mau bersekutu, dan tetap membiarkan mereka di dalam keadaan keberdosaan mereka. Tidak sedikit juga yang menutup diri terhadap orang-orang yang tertindas atau miskin. Yah, sekalipun ada banyak argumentasi “kita mengasihi orangnya, namun membenci dosanya”, namun nampaknya kebencian terhadap dosanya lebih besar daripada kasih kita kepada orang yang berdosa tersebut. Kebencian terhadap dosa yang lebih besar daripada kasih, sesungguhnya telah menutup peluang dan kesempatan kita untuk bersekutu dan menolong orang yang berdosa. Ketika kebencian lebih besar daripada kasih, mustahil ada misi pencarian terhadap orang berdosa. Bukankah ini suatu kemunafikan belaka? Gereja dan orang Kristen menyebut mereka yang berdosa dan berada di luar gereja, sebagai kelompok yang terhilang. Namun, bukankah gereja sendiri sebenarnya juga sedang “terhilang”?Bukankah gereja sedang terhilang karena mereka menghilangkan jati diri dan panggilan Allah bagi gereja-Nya, untuk mencari dan menyelamatkan orang yang berdosa? bukankah gereja bisa disebut sebagai gereja yang hilang, karena gereja menutup diri, tidak bergerak keluar mencari orang berdosa, bersekutu dengan orang berdosa dan menyelamatkan mereka? Bukankah gereja dapat disebut sebagai gereja yang hilang, ketika gereja nyaman dan lebih sibuk menjaga domba-domba yang ada di dalam gereja, daripada mencari “domba-domba yang hilang” yang memerlukan pertolongan dan penyelamatan dari kita? Kita begitu sibuk menghakimi dan “menyingkirkan” mereka sebagai yang terhilang, padahal kita sendiri sedang berada di dalam posisi yang serupa. Gereja megklaim sedang bersama dengan Bapa, namun tidak memiliki cara pandang dan beban yang sama terhadap orang berdosa? Neil Cole, dalam bukunya, Organic Church, menulis: “kita masih membagi orang banyak menjadi orang bergereja dan tidak bergereja, seolah-olah hal yang sangat mereka butuhkan sebagai hal yang benar adalah datang ke organisasi (gereja) kita.” Pernyataan Cole ini adalah bentuk keprihatinannya yang melihat gereja seolah-olah sedang membangun tembok terhadap orang berdosa. Tembok yang dibangunnya, hanya bisa dimasuki oleh orang berdosa ketika mereka meminta “izin” masuk kepada gereja. Itu sebabnya, Cole memberikan kritik yang keras terhadap gereja yang menutup diri, demikian “jangan membawa orang-orang ke gereja sehingga kita kemudian bisa membawa mereka kepada Kristus, tetapi bawalah Kristus kepada orang-orang dimana mereka tinggal.” Dengan kata lain, gereja haruslah bersikap aktif mencari, bergaul dan mencari orang yang hilang, bukan bersifat pasif. Gereja yang menolak keberadaan orang berdosa, adalah gereja yang terhilang dari tujuan keberadaannya di bumi ini. Gereja ada oleh karena kasih Kristus dan untuk mewujudnyatakan kasih tersebut kepada dunia yang terhilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berkenalan dengan Jangkar KehidupanKarena mengenal satu sama lain itu indah.