Biarkan “Orang Lain” Menerima Kasih Yesus

(Matius 15:21-28)

 

Adalah hal yang mudah bagi gereja dan orang Kristen untuk berkata bahwa Yesus mengasihi dan datang untuk menyelamatkan manusia yang berdosa, apapun latar belakang suku bangsa, strata sosial, dan kelamnya hidup mereka. Faktanya memang demikian, Yesus tidak pernah diskriminatif dalam kasih-Nya. Namun, apakah gereja dan orang Kristen mengikuti teladan Yesus tersebut? Pada suatu waktu, saya pernah melayani seseorang pemuda yang memiliki orientasi seksual sebagai seorang Homoseksual (Gay). Bibi pemuda tersebut adalah sahabat saya ketika saya masih remaja, dan ia berkata kepada saya bahwa sebelum bertemu dengan saya, Ia sudah membawa keponakannya yang punya masalah seksual sejak kelas 3 SD tersebut (saat itu kelas 2 SMA) kepada beberapa hamba Tuhan untuk dilayani, namun justru mereka mengalami penolakan oleh hamba-hamba Tuhan yang mereka temui, oleh karena beberapa alasan yang sesungguhnya sepele. Hal ini sesungguhnya patut disayangkan, mengapa orang Kristen justru bersikap diskriminatif dan menolak kedatangan orang yang sedang mencari dan membutuhkan kasih Kristus?

Penulis Injil Matius mengisahkan pelayanan Yesus bersama murid-muridNya di Tirus dan Sidon serta menyembuhkan putri wanita kanaan yang kerasukan setan. Perlu diperhatikan bahwa pembaca pertama Injil Matius adalah orang Yahudi yang punya sejarah kelam dengan Tirus dan Sidon. Pada zaman itu, Tirus dan Sidon adalah kota yang terkenal jahat, dan merupakan salah satu musuh atau lawan orang Israel (bnd.Yes:23; Yeh.26,28; Amos 1:9; Mat 11:21).     Kedatangan Yesus yang adalah orang Yahudi ke Tirus dan Sidon justru akan menarik perhatian pembaca mengapa ia pergi ke daerah musuhnya mereka, bahkan menolong wanita kanaan yang notabene adalah bangsa kafir? Pertanyaan ini layak diangkat oleh karena orang Yahudi meyakini bahwa Mesias hanya untuk kaum mereka. Tidak heran, ketika wanita kanaan datang kepada Yesus meminta untuk menyembuhkan putrinya, murid-muridNya justru berkata kepada Yesus “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak”(Mat 15:24). Pengusiran ini bukanlah tanpa alasan. Lebih dari sekedar karena teriakan yang menganggu, sejarah kelam orang Yahudi dengan bangsa Tirus, Sidon, dan Kanaan, serta eklusifitas mereka bahwa Mesias hanya untuk orang Yahudi, menjadi alasan penolakan murid-muridNya.dalah hal yang mudah bagi gereja dan orang Kristen untuk berkata bahwa Yesus mengasihi dan datang untuk menyelamatkan manusia yang berdosa, apapun latar belakang suku bangsa, strata sosial, dan kelamnya hidup mereka. Faktanya memang demikian, Yesus tidak pernah diskriminatif dalam kasih-Nya. Namun, apakah gereja dan orang Kristen mengikuti teladan Yesus tersebut? Pada suatu waktu, saya pernah melayani seseorang pemuda yang memiliki orientasi seksual sebagai seorang Homoseksual (Gay). Bibi pemuda tersebut adalah sahabat saya ketika saya masih remaja, dan ia berkata kepada saya bahwa sebelum bertemu dengan saya, Ia sudah membawa keponakannya yang punya masalah seksual sejak kelas 3 SD tersebut (saat itu kelas 2 SMA) kepada beberapa hamba Tuhan untuk dilayani, namun justru mereka mengalami penolakan oleh hamba-hamba Tuhan yang mereka temui, oleh karena beberapa alasan yang sesungguhnya sepele. Hal ini sesungguhnya patut disayangkan, mengapa orang Kristen justru bersikap diskriminatif dan menolak kedatangan orang yang sedang mencari dan membutuhkan kasih Kristus?

Lalu bagaimanakah dengan sikap Yesus sendiri? Sepintas sepertinya kita melihat Yesus juga memiliki sikap yang selaras dengan murid-muridNya. Pada awalnya, Yesus hanya berdiam diri tidak menjawab wanita tersebut (ay.23), dan bahkan ia berkata kepada wanita kanaan tersebut “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya pada anjing” (ay.26). Sebutan “Anjing” yang digunakan Yesus merupakan ungkapan rasis orang Yahudi pada waktu itu untuk menyebut bangsa kafir di luar mereka. Apakah Yesus juga bersikap diskriminatif? Sesungguhnya, Yesus berdiam diri bukan karena tidak peduli terhadap Perempuan Kanaan, namun menanti reaksi Murid-murid. Yesus sedang mengajar atau melatih muridNya bagaimana bersikap terhadap “Anjing”. Jikalau murid-muridnya bersikap rasis dan diskriminatif, maka Yesus sedang mengajarkan bahwa Ia mendatangi dan melayani bangsa dan orang Kafir (yang digolongkan sebagai Anjing). Bahkan, Ia menerima kedatangan orang Kafir yang menginginkan kasihNya, serta menolong mereka. Secara sederhana, Yesus justru bertindak berseberangan dengan pikiran orang Yahudi, bahwa bangsa lain juga berhak menerima keselamatan. Dengan kata lain, kasih dan mujizat Yesus tidak dibatasi hanya untuk kalangan tertentu saja, namun juga untuk “orang lain” yang dianggap sebagai “Anjing”, yang terpinggirkan, terbuang, dan tertolak.

Gereja dan orang Kristen tidak boleh jatuh dalam sikap ekslusif, kesombongan spiritual yang diskriminatif dan menolak kedatangan “orang lain”, yakni orang-orang yang hina, terhilang tertolak, serta membutuhkan pemulihan dari Tuhan. Jikalau Yesus menerima dan memberikan kasihNya yang transformatif kepada “orang lain”, lalu atas dasar apakah gereja dan orang Kristen menolak “orang lain” atau “anjing” yang mencari dan membutuhkan pemulihan dan kasih Kristus? Injil dan kasih Kristus harus dibagi kepada “orang lain” dan bukan diisolasikan oleh gereja-Nya. Patut disayangkan jika orang-orang yang terhilang diisolasi oleh umat-Nya atau gereja-Nya. Gereja yang demikian bukanlah

Gereja yang dikuasai oleh kasih Allah, namun dikuasai oleh kepentingan diri. Seringkali alasan yang dipakai adalah “mengasihi orangnya, namun membenci dosanya”. Nampaknya, ungkapan ini menjadi kamuflase untuk menutupi keenganan melayani mereka yang tergolong “anjing” ini. Kebencian terhadap dosa yang melebihi kasih terhadap pribadi yang terhilang, telah menjadi topeng kepalsuan untuk menutup kemunafikan umat-Nya. Betul, Allah adalah Pribadi yang membenci dosa, namun justru karena kebenciannya terhadap dosa, serta kasih-Nya, menjadi pendorong mengapa Yesus berinkarnasi ke dunia, mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Ingatlah, umat-Nya dan gereja-Nya kelak akan mempertanggungjawabkan sikap diskriminatif atau rasis terhadap orang-orang berdosa.

 

 Christian are not mainly on a mission to Isolate ourselves from the world,

but to advance the gospel in the world

                                                John Piper

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berkenalan dengan Jangkar KehidupanKarena mengenal satu sama lain itu indah.