ANTARA ANGIN & COVID-19

Oleh karena anjuran pemerintah untuk stay at home, maka dalam beberapa hari belakangan ini saya menyempatkan waktu di sore hari untuk bermain badminton dengan sepupu saya di depan rumah. Ada hal dan pengalaman yang berbeda jika kita bermain badminton di ruang terbuka dengan di ruang tertutup. Ketika bermain di ruang yang terbuka, tak jarang angin yang cukup kencang lewat dan dapat mempengaruhi arah dan pergerakan Shuttlecock (kok) nya. Tentu saja, hal ini dapat menganggu kinerja permainan kita. Hal itulah yang terjadi ketika saya sedang bermain badminton di depan rumah, kerapkali angin cukup kencang datang dan “menganggu” permainan saya. Tak jarang, saya dan sepupu saya harus berhenti sejenak, menunggu agar angin berhenti. Sembari menunggu, dengan bercanda saya mencoba memukul angin dengan raket saya dan berkata Diamlah!! Pergilah kamu! Lalu apakah yang terjadi? Puji Tuhan, ternyata angin tetap bertiup, tidak tunduk pada perintah saya.

Lantas, apakah kami harus berhenti bermain hanya gara-gara angin?Tidak… kami memutuskan untuk tetap melanjutkan permainan. Namun, angin ini membuat saya semakin bekerja keras dalam bermain. Arah dan pergerakan shuttlecock yang mudah berubah karena angin, memaksa saya semakin bekerja keras untuk mengejar, serta membuat saya harus bermain dengan strategi yang tepat dan cerdik supaya saya bisa memenangkan permainan. Cara bermain saya harus diubah. Saya lah yang harus menyesuaikan diri dengan keberadaan angin, karena angin tidak bisa saya perintahkan diam (mungkin saya kurang kuasa dan iman untuk menghentikan angin.) Lebih melelahkan memang.

Hari demi hari, perlahan-lahan saya sudah mulai terbiasa bermain badminton walaupun ada angin lewat. Fisik saya tidak mudah lelah untuk mengejar shuttlecock. Lambat laun saya mulai dapat menebak arah shuttlecock jika ada angin lewat, dan dapat mengendalikan permainan. Akhirnya saya tersadar, keberadaan angin yang “menganggu” tersebut, sesungguhnya telah membentuk mental,daya juang, dan kreatifitas bermain saya. Dalam perspective awal saya, angin adalah penganggu yang dapat merusak dan menggagalkan permainan saya, namun ternyata sang angin sedang melatih saya. Maka berubahlah perspective saya terhadap angin. Ia bukan “penganggu”, melainkan “penolong”. Ia bukan “Penghancur”, melainkan “Pembentuk”. Singkatnya, angin adalah pelatih “perspective” dan “mental” saya.

Lantas, apa hubungannya Angin dengan Covid-19? Tentu saja, terlampau jauh membandingkan antara Angin dan Covid-19. Namun, izinkan saya menawarkan 2 hal penting yang mungkin bermanfaat bagi teman-teman pembaca, yakni “Perspective (Cara pandang)” dan “Mental”. 2 hal ini adalah aspek penting bagi kita dalam menyikapi problema hidup yang sedang kita alami saat ini, khususnya terkait pandemik Covid-19. Tak dapat dipungkiri, beragam reaksi dan aksi muncul seiring keberadaan tamu yang tak diundang ini. Tak jarang kita menemui kekuatiran, ketakutan, isak tangis, stress, dan yang lainnya sebagainya. Covid-19 tak pandang bulu dalam menyerang semua manusia apapun ras, agama, jabatan, tingkat ekonominya. Berbagai macam aksipun dilakukan, baik secara medis, sosial, politik, maupun agama. Banyak doa, seruan, dan nubuatan digaungkan, dengan sebuah harapan Allah akan menghentikan Corona. Namun, situasi terkini nampaknya membuat kita harus menerima kenyataan, nampaknya sang virus belum diam dan tenang. Dalam situasi demikian, tak sedikit orang yang mulai putus asa dan mempertanyakan kehadiran dan kuasa Allah. Dimana kah kuasa Allah? Lebih tragis lagi, banyak orang Kristen dan bahkan hamba-hamba Tuhan yang juga tak berdaya melawan Covid-19, mereka harus mengakhiri perjalanan hidupnya di bumi ini. Realita ini dapat membuat goyah iman mereka akan Allah. Benarkah Allah mengasihi mereka dan berkuasa menolong kita?

Sadar atau tidak sadar, perspective kita tentang Allah mulai berubah hanya karena Covid-19. Padahal seharusnya perspective kita tentang Allah janganlah berubah. Yang harus berubah adalah perspective kita terhadap Covid-19. Allah tidak berubah, tetapi kitalah yang berubah. Ibarat seorang pelaut atau nelayan yang sedang menghadapi ombak yang besar di tengah laut, kadang kala Allah bukan menenangkan badainya, melainkan menenangkan pelautnya. Demikian juga dalam hidup kita, Adakalanya Allah menenangkan badai yang mengamuk, tetapi adakalanya Ia membiarkan badai tetap menerjang, dan Ia pun menenangkan kita. Allah tidak berubah dalam kasih-Nya, Ia hanya “berubah” dalam “cara” meng-eksekusi kasih-Nya. Kita mengharapkan Allah menunjukkan kasih-Nya dengan menghentikan langsung covid-19, namun Allah dalam kedaulatan-Nya dapat menunjukkan kasih-Nya dengan bukan menghentikan Covid-19, namun dengan cara mengubah perspective, mental, dan daya kita melawan covid-19.

Ibarat ilustrasi perspective dan mental terhadap angin yang saya paparkan sebelumnya, perspective dan mental kita terhadap Covid-19 lah yang perlu diubah. Kalau memang Covid-19 tidak bisa dihentikan atau ditenangkan dengan doa kita, seperti yang digaungkan oleh segelintir orang, mengapa kita tidak berdoa agar kita yang ditenangkan?Bukankah ahli kesehatan sudah memaparkan bahwa ketenangan diri kita, mempengaruhi imun kita dalam melawan covid-19? mintalah pertolongan-Nya agar kita dapat tetap tenang dan mengontrol diri. Mengapa kita tidak mengubah persepective dan mental kita terhadap Covid-19?Ibarat seperti ilustrasi sebelumnya dimana saya yang menyesuaikan diri dengan angin karena saya tidak bisa menghentikannya, demikian pula kita lah yang harus menyesuaikan diri dengan keberadaan covid-19.Mengapa kita tidak mengubah cara bermain kita terhadap covid-19? Tentu saja kita harus jujur dan tegas mengatakan bahwa Covid-19 adalah “penganggu”, tapi pada sisi lain belajarlah mengubah perspective kita bahwa Covid-19 juga adalah “penolong” dan “pembentuk”, yang dapat mengubah karakter, mental, pola hidup, dll. Covid-19 mengubah kebiasaan dan disiplin kita dalam merawat kesehatan dan memperhatikan kebersihan tubuh. Setiap anjuran dan kebijakan yang dibuat pemerintah dan ahli kesehatan, itu perlu ditaati dan dilakukan. Patut disayangkan memang, masih saja ada orang yang tidak peduli akan hal ini. Kembali, ini adalah persoalan mental. Padahal, mental ketaatan melakukan setiap anjuran yang ada, adalah modal yang baik untuk memenangkan pertarungan dengan Covid-19. Saya melihat dan prihatin jikalau Covid-19 juga berimbas kepada perekonomian manusia. Tidak sedikit orang yang harus berhenti bekerja dan kehilangan pemasukan. Tetapi pada sisi yang lain, saya juga melihat dan mendengar kesaksian segelintir orang yang mampu menyesuaikan diri dengan situasi karena covid-19, ia bekerja keras dan kreatif. Ia punya mental dan mengubah “cara permainannya.” Artinya, Covid-19 bukan penentu utama “permainan” dalam hidup anda. Andalah penentu dalam “permainan” ini. Perspective dan mental kita punya pengaruh penting dalam “permainan” ini, besar atau kecil dan cepat atau lambat. Tanpa bermaksud untuk merendahkan atau meremehkan orang yang sedang kesulitan karena covid-19, saya punya keyakinan kita sebetulnya punya kemampuan untuk bangkit. selalu ada harapan dan buah disetiap kerja keras kita 🙂

Dalam lingkup bergereja dan melayani, Covid-19 dapat menolong kita lebih kreatif dalam pelayanan. Orang Kristen dan Gereja hendaknya tidak berdiam diri, pasrah dalam menghadapi Covid-19. Justru, gereja harus bangkit dan menyesuaikan diri. Gedung gereja sementara ditutup bukan berarti pelayanan juga tutup. Toh, kehadiran Allah melampaui gedung gereja dengan segala fasilitasnya. Ia hadir di setiap rumah dan keluarga yang beribadah. Covid-19 dapat menutup gedung gereja untuk sementara waktu, tapi Covid-19 tidak dapat menutup/ menghentikan kehadiran Allah.Sekali lagi, Allah tidak berubah, kita yang berubah. Kita dan gereja-Nya yang harus berubah mengikuti perkembangan zaman dan situasi terkini. Misi Allah tidak berubah, tetapi strategi dan metode pelayanan harus berubah.

Jikalau Covid-19 belum bisa dihentikan oleh doa-doa kita (dengan puasa sekalipun), atau sembari menunggu jawaban Allah atas doa kita, maka kita harus berpartipasi aktif dalam setiap upaya pencegahan. Saya selalu punya keyakinan bahwa doa kita kepada Allah agar Covid-19 berlalu, yang diiringi dengan perubahan perspective, mental, kita terhadap Covid-19, serta perjuangan kita untuk pencegahan covid-19, itulah yang mengalahkan Covid-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berkenalan dengan Jangkar KehidupanKarena mengenal satu sama lain itu indah.