Merdeka!!….Merdeka!!…Merdeka!! itulah seruan yang selalu terdengar di segala penjuru tempat di Indonesia setiap tanggal 17 Agustus. Bukan hanya seruan tersebut, namun bendera merah putih, bendera kebanggaan bangsa kita, turut juga dikibarkan ke segala penjuru. Mulai dari rumah, sekolah, perkantoran, gunung, bahkan di laut pun bendera tercinta berkibar dengan gagahnya. Tak cukup hanya dengan seruan dan kibaran bendera, warga pun dengan antusiasnya mengadakan berbagai macam kegiatan, mulai dari perlombaan dan pentas seni, dilakukan untuk merayakan peristiwa bersejarah bangsa Indonesia. Tak heran, 17 Agustus selalu menjadi salah satu hari yang dinanti-nantikan bangsa Indonesia.

Tidak terasa, ternyata bangsa kita tercinta sudah merdeka selama 74 tahun. Barangkali, masih ada segelintir orang yang mengalami dan menyaksikan secara langsung bagaimana deklarasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan oleh Ir. Soekarno untuk pertama kalinya dan tersebar ke seluruh penjuru Indonesia bahkan dunia pada 17 Agustus 1945. Perlahan tapi pasti, negeri kita mulai begerak dari keterpurukan sebagai bangsa yang terjajah, bangkit menjadi bangsa yang merdeka dan besar untuk membangun negeri sendiri. Dari Sabang sampai Merauke, pembangunan terus dilakukan oleh pemerintah, demi masa depan bangsa yang lebih baik. Terlepas dari kelebihan dan kekurangan upaya pemerintah untuk membangun bangsa Indonesia, baik pembangunan Sumber daya manusia dan sumber daya alam, sudah sepatutnya kita juga mengambil bagian dalam pembangunan bangsa Indonesia sebagai upaya mengisi dan mempertahankan kemerdekaan bangsa kita. Sadar atau tidak, acapkali kita meletakkan beban tanggung jawab pembangunan bangsa Indonesia ke pundak pemerintah semata. Padahal, kita adalah bagian dari penerima kemerdekaan itu dan kita wajib juga mengambil bagian dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dan memajukan kesejahteraan bangsa Indonesia. Kemajuan bangsa Indonesia juga tidak terlepas dari peran serta kita.

Secara definitif dan aklamasi memang bangsa Indonesia sudah merdeka. Namun, jikalau kita menelusuri lebih jauh lagi, apakah kita sudah sepenuhnya merdeka? Merdeka tidak hanya dipahami sebatas pada kelepasan atau kebebasan dari penjajahan musuh atau bangsa lain, namun juga dapat dipahami sebagai sebuah kebebasan dari perhambaan dari sesuatu yang mengikat kita. Jikalau kita masih diperhamba oleh obat-obat terlarang, bukankah kita menjadi orang yang belum mampu memenangkan atau memerdekakan diri sendiri dari penjajahan obat-obat terlarang? Jikalau kita masih mencuri uang atau barang milik orang lain, bukankan itu menunjukkan bahwa kita belum mampu merdeka atas keinginan dan tindakan jahat?Jikalau kita melakukan sex bebas atau pemerkosaan, bukankah itu juga merupakan suatu bentuk ketidakmampuan kita untuk merdeka dari keinginan dan perbuatan sexual yang salah? Masih banyak contoh-contoh lain yang dapat mengambarkan bahwa kita merdeka secara bangsa atau negara, namun kita belum merdeka atas diri kita sendiri. Mungkin kita terlepas dari perbuatan jahat orang lain atau bangsa atas kita, namun ketika kita terikat kepada sesuatu yang salah, buruk, dan merusak hidup kita, maka sesungguhnya kita belum mengalami kemerdekaan pribadi. Kemerdekaan sejati, tidak hanya berbicara mengenai kemerdekaan dari penjajahan bangsa, namun juga dari penjajahan dosa dan kebiasaan buruk kita.

Rasul Paulus menuliskan kepada orang percaya di Galatia “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (Galatia 5:1). Pernyataan rasul Paulus menandaskan pentingnya kemerdekaan pribadi atas perhambaan sesuatu atau dosa yang buruk, salah, dan merusak hidup kita. Paulus juga menegaskan bahwa kemerdekaan pribadi itu hanya bisa diperoleh melalui Yesus Kristus. Dengan kata lain, tidak ada satu pribadi di bumi ini yang memiliki kuasa untuk membebaskan kita dari perhambaan atau penjajahan dosa. Manusia bisa membebaskan kita dari perbudakan dosa, namun tidak bisa membebaskan kita dari perbudakan dosa. Hanya Yesus Kristus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, yang mampu melakukan karya tersebut.

Sembari merayakan kemerdekaan bangsa Indonesia, ada baiknya kita menelusuri dan mengevaluasi hidup kita apakah kita sudah sungguh-sungguh mengalami kemerdekaan sejati? Tentunya, kehidupan kita akan semakin lebih baik dan bertumbuh ketika kita tidak hanya merdeka dari penjajahan bangsa lain, namun ketika kita juga merdeka dari penjajahan dosa atas kita. Anda ingin tahu caranya? Datanglah pada Tuhan Yesus, minta ampun dan mohonlah belas kasihan serta kelepasan dari penjajahan dosa. Percayalah, Ia akan memerdekakan kita dari kehidupan kita yang terpuruk oleh karena beban dosa kita.

 

Penulis : Hardian Baja Tarigan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berkenalan dengan Jangkar KehidupanKarena mengenal satu sama lain itu indah.