Dalam beberapa argumentasi dan pernyataan tertentu, penulis pernah berjumpa dengan pemikiran dan pandangan beberapa orang. Demikian, kalau kamu baik saya juga baik tetapi kalau kamu jahat saya juga bisa lebih jahat dari kamu. Sejenak, muncul suatu kata yang tidak lazim dalam benak saya. Pembalasan, kata yang secara tersirat mengungkapkan keinginan dan maksud orang tersebut. Banyak sekali informasi yang dapat kita ketahui tentang topik yang satu ini. Kalau boleh jujur, apakah informasi itu sifatnya baik ataukah buruk? Tetapi kalau secara objektif kita akan menemukan informasi yang buruk, bahkan menyedihkan tentang pembalasan. Sayangnya pada masa sekarang, banyak manusia yang kehidupannya tanpa ia sadari memegang erat dan berprinsip teguh perihal pembalasan. Sehingga akhirnya, kecerobohan dan kemarahan memboncengi dirinya saat berhadapan dengan masalah. Pada akhirnya, hanya ada penyesalan terdalam atas apa yang telah dilakukannya.

Berdasarkan pembelajaran Firman Tuhan, kita akan belajar apa yang rasul Paulus sampaikan mengenai bagian ini. Dalam Roma 12:21, Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan. Secara literal dapat dipahami bahwa Ia mengajarkan untuk tidak dikalahkan oleh kejahatan tetapi dengan kebaikan mengalahkan kejahatan. Mengapa jangan dikalahkan oleh kejahatan? Malahan ia mengajarkan untuk menggunakan kebaikan supaya dapat mengalahkan kejahatan? Hal yang sebenarnya agak kontradiksi. Karena Paulus menyadari bahwa, kejahatan yang saling membalas satu dengan yang lain tidak akan ada selesainya. Jadi, Ia malahan mengajarkan supaya kejahatan itu dikalahkan bukannya diperpanjang dengan cara balas-membalas. Bagaimana mengalahkannya? Berdasarkan Firman Tuhan ini Paulus hanya memberikan satu-satunya jawaban terbaik, yaitu kebaikan.

Pada bagian Firman Tuhan ini Paulus begitu tegas melarang kalah, karena kata janganlah berisi suatu ketegasan untuk tidak melakukan apa yang disampaikan tanpa adanya kompromi. Sedangkan kata kalah berarti memberikan kemenangan atau juga menyerah tanpa ada perlawanan. Sehingga dapat disimpulkan, Paulus melarang orang percaya tidak boleh menyerah terhadap situasi yang jahat dalam kehidupan mereka tanpa ada alasan apa pun. Sebaliknya, sesuai dengan kata kebaikan yang berarti perbuatan baik yang menunjukkan kasih Allah. Demikianlah, orang percaya ditantang untuk mempratekkan kasih Allah secara nyata dalam kehidupannya agar kasih Kristus dapat dinikmati serta dirasakan semua orang disekitar mereka. Kebaikan yang dilakukan mereka didasarkan pada kasih Allah yang telah lebih dahulu mereka alami. Yaitu, penebusan atas dosa menuntun pada anugerah hidup kekal yang diperoleh orang percaya.

Hanya kebaikan Allah sajalah, yang mampu mengalahkan kejahatan. Itu sebabnya, supaya kebaikan ini tidak hilang dan lenyap begitu saja. Orang percaya perlu, menghidupi kebaikan Allah itu. Salah satu caranya adalah, dengan mengalahkan kejahatan yang mereka alami dalam kehidupannya sehari-hari. Kasih Allah dalam kebaikanNya itulah, akan menutun dan membawa mereka yang belum percaya. Pada pengenalan akan, kasih yang ajaib dan luar biasa. Kasih yang tidak egois, tidak mementingkan kepentingan sendiri, tidak mencari keuntungan. Kasih yang hanya berfokus, pada kepentingan bersama. Kasih yang memerlukan komitmen, kasih yang mewajibkan adanya kerelaan dan ketulusan. Bahkan, kasih yang mau berkorban dan mengorbankan kepentingan pribadi demi kebaikan orang lain. Demikianlah kasih Kristus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.