Bulan Januari telah kita lewati karena anugerah Tuhan yang senantiasa menyertai kita waktu demi waktu dan hari demi hari. Tentunya, ada banyak kisah yang terjadi sepanjang bulan yang telah dilewati, baik itu suka dan duka, maupun kesulitan dan keberhasilan yang Tuhan izinkan terjadi untuk menjadi bagian hidup kita. Ketika memasuki bulan yang baru, kita sudah mempersiapkan segala rencana dan juga memiliki banyak harapan, yang tentu saja kita harapkan dapat berjalan dengan baik dan membawa hasil yang positif. Itu sebabnya kemantapan hati menjadi sesuatu yang penting dalam perjalanan hidup kita. Seseorang yang mantap hatinya atau optimis, dapat menuai keberhasilan. sebaliknya, seorang yang pemimis, kemunduran atau kegagalan dapat dituainya.
 
Ketika rasul Paulus menulis suratnya kepada jemaat di Filipi, dia sedang berada di dalam penjara. yang menarik, Paulus nampaknya tetap bersukacita sekalipun dia dalam penjara, hal ini terlihat dari isi suratnya, di mana istilah “sukacita” (dengan padanan kata “bersukacita”) dituliskan oleh Rasul Paulus sebanyak 16 x. Penekanan ini mengindikasikan suasana hati Paulus yang konsisten bahwa dia tetap bersukacita, terkait dengan situasi yang dia alami maupun jemaat di Filipi. Paulus tetap memiliki hati yang mantap dalam menatap masa depannya. ini merupakan suatu pelajaran yang sangat indah bagi kita pada masa kini, bahwa sukacita bisa tetap menjadi milik bagian orang percaya sekalipun kita berada dalam situasi yang terburuk. Bagaimana kita bisa memiliki kemantapan hati yang sedemikian rupa?
 
Salah satu ucapan syukur dan sukacita Paulus yang terungkap dalam suratnya adalah melihat pekerjaan Allah yang terus disempurnakan kepada jemaat Filipi, dari awal penerimaan mereka terhadap berita Injil, hingga pada saat Paulus menulis suratnya ini. Paulus menulis: “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus”. Pada ayat ini, ada beberapa hal penting yang menyebabkan Rasul Paulus memiliki kemantapan hati:
 
1. Dasar kemantapan hatinya bukanlah karena keberadaan dirinya maupun jemaat Filipi, melainkan Pribadi dan karya Allah.
Tidak bisa dipungkiri, sadar atau tidak sadar, bahwa manusia cenderung menjadikan hikmat, kekuatan, rencana, atau apapun yang dia miliki, sebagai dasar kemantapan hatinya dalam melangkah dan menjalani hari-harinya. Konsekuensi logisnya, ketika manusia tidak memiliki sesuatu yang diandalkan, maka lahirlah keragu-raguan. Kecenderungan manusia yang sedemikian rupa menunjukkan bahwa kemantapan hati manusia masih bergantung pada keberadaan dirinya dan kondisi atau situasi yang ada. Tidak demikian halnya dengan Paulus, dasar mengapa dia tetap bersukacita sekalipun dia ada dalam penjara dan tidak ada sesuatu yang bisa diandalkan dari dirinya sendiri adalah karena dia mengenal Tuhan (perhatikan kata “yaitu, Ia”). Pengenalan Rasul Paulus yang jelas secara teologis mengenai Pribadi dan karya Allah, telah menjadi dasar keyakinan dia terhadap proses penyelesaian rencana keselamatan Allah bagi jemaat Filipi. kemantapan hati Paulus ini diperoleh dari pengenalan akan Tuhan yang baik dan dibangun melalui proses keintiman dengan Allah (Filipi 3:8-10) Jika demikian, salahkah jika kita mengandalkan apa yang kita miliki sebagai dasar keyakinan kita?jelas tidak salah sepenuhnya, namun jangan itu yang menjadi sandaran utama kita, sebab apa yang kita miliki itu terbatas. Bersandarlah kepada pribadi Allah, serahkanlah apa yang kita miliki kepada-Nya, niscaya itu akan diberkati-Nya.
 
2. Dasar kemantapan hatinya adalah kedaulatan Allah dalam sejarah hidup manusia.
Konsep kedaulatan Allah sangat kuat mempengaruhi paradigma berpikir Rasul Paulus, dan itu terlihat dalam hidupnya. Rasul Paulus menulis “Ia, yang memulai yang baik…akan meneruskannya…”, hal ini mengindikasikan keterlibatan Allah dalam sejarah hidup jemaat Filipi,dari awal mereka mengenal Injil hingga Paulus tulis tulis surat ini, dan bahkan hingga kedatangan Kristus yang kedua kalinya kelak.
Oleh sebab itu, keyakinan akan kedaulatan dan providensia (Pemeliharaan) Allah menjadi dasar kemantapan hati yang sangat kuat bagi orang percaya bahwa Allah yang telah memulai rencana yang baik yang baik dalam kita, Dia juga yang akan menyelesaikan itu. Allah bertanggung jawab penuh kepada diri-Nya sendiri untuk menyelesaikan apa yang telah Dia mulai di dalam kita. Kendati demikian janji Allah, tidak seharusnya kita bersifat pasif dan membiarkan Allah menyelesaikan semuanya sendiri. Allah mau kita mengerjakan sungguh-sungguh dan penuh keyakinan apa yang kita rencanakan. Seandainya apa yang kita rencanakan gagal, atau kita belum mampu menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan, yakinilah bahwa Allah sedang terus bekerja untuk menyelesaikan rencanaNya bagi kita. Terkadang kita perlu melihat rencana kita gagal terlaksana, supaya kita belajar melihat rencana Tuhan yang terlaksana dalam hidup kita. Belajarlah bersyukur ketika rencana kita gagal, sebab pada saat yang sama Allah sedang melaksanakan rencana-Nya. Kadangkala, Allah perlu menggagalkan rencana kita agar Ia bisa melaksanakan rencana-Nya atas kita. Kita bisa gagal menyelesaikan tugas dan rencana kita, tapi Allah tidak pernah gagal menyelesaikan rencanaNya bagi kita. Jika kita memiliki dasar seperti ini, maka kita akan melangkah dengan hati yang mantap.
 
Selamat menjalani bulan Februari Dengan kemantapan hati dan keyakinan akan pemeliharaan dan kasih Tuhan.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.