Allah yang sempurna dengan kedaulatanNya menciptakan dan mengizinkan manusia hidup dengan memiliki kelebihan dan kekurangan dengan tujuan agar manusia bisa memuliakan Allah dan hidup sesuai dengan rencanaNya (Yes 43:7). Pada dasarnya, semua kelebihan dan kekurangan manusia dapat dipakaiNya untuk rencana dan kemuliaan Allah. Kendati demikian, ada beberapa tendensi atau kecenderungan pemikiran beberapa orang berkenaan dengan relasi antara kelemahan dan panggilan Allah. Pertama, hanya kelebihan manusia yang dapat dipakai untuk melayani Tuhan. Kedua, sebaliknya, Kelemahan adalah penghambat untuk melayani Tuhan. Dalam hal ini jelas bahwa manusia cenderung menilai kelemahan sebagai batu sandungan. Kelemahan, baik secara fisik, psikologis, maupun yang lainnya, acapkali dilihat sebagai kekuatiran dan batu sandungan untuk melangkah maju ke depan. Padahal, cara kita memandang kelemahan kita justru akan menentukan langkah hidup kita ke depannya. Jikalau kita memandang kelemahan sebagai batu sandungan, kemunduranlah yang akan kita alami. Sebaliknya, jika kelemahan dipandang sebagai batu loncatan, maka kemajuanlah yang kita alami.

Di dalam kisah penyataan diri Allah dan pengutusan-Nya kepada Musa, ada beberapa hal penting yang bisa kita pelajari terkait mengapa kelemahan dapat menjadi batu sandungan ketimbang batu locatan bagi orang kristen untuk memenuhi panggilan Tuhan, yakni:

1. Fokus kepada kelemahan ketimbang kelebihan.

Jika kita membaca keseluruhan konteks kisah pemanggilan dan pengutusan Allah bagi Musa, terlihat jelas bahwa Musa selalu berdalih (Kel. 3:11,13; 4:1, 10, 13). Semua dalihnya ini merupakan buah dari paradigma berpikir Musa yang salah tentang gambar dirinya (“Siapakah aku ini ya Tuhan”, Kel. 3:11) yang dia ciptakan menurut penilaiannya sendiri ketimbang penilaian Allah. Sedikit banyak, pemahaman kita tentang gambar diri kita memiliki pengaruh yang signifikan terhadap langkah hidup kita. Memang realitanya kita memiliki kelemahan, tapi cara pandang kita terhadap kelemahan, apakah menjadi batu sandungan atau batu loncatan, menentukan arah langkah hidup kita. Dalam hal ini, paradigma berpikir Musa tentang “Siapakah Aku” telah melahirkan sebuah pesimisme ketimbang optimisme. Konsep gambar diri yang Musa ciptakan sendiri, justru telah menjadi batu sandungan bagi dirinya dalam memenuhi panggilan Allah yang berdaulat. Sesungguhnya, kuasa Allah yang berdaulat dan tidak terbatas, tidak dapat dibatasi oleh keterbatasan manusia. Justru, kadangkala Allah memakai orang yang lemah dan penuh keterbatasan agar dunia dapat melihat kuasa yang tidak terbatas yang menyertai perjalanan dan pelayanan hidup orang percaya.

2. Pengambilan keputusan selalu dipertimbangkan dan ditentukan dengan bertolak pada kelemahan, ketimbang kelebihan yang dimiliki dan janji atau kuasa Tuhan.

Dalih Musa menghindari panggilan Tuhan selalu didasari oleh faktor “kelemahannya.” Ketika dia berkata “Ah Tuhan, Aku ini tidak pandai bicara” (Kel 4:10), jelas bahwa acuannya dalam pengambilan keputusan terhadap panggilan Allah adalah kelemahannya. Tentu saja, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, pertimbangan dan keputusan yang dimiliki oleh Musa adalah buah daripada konsep gambar diri ciptaannya sendiri. Orang yang lebih menitikberatkan pada kelemahan ketimbang kelebihan dan panggilan atau janji dari Tuhan, cenderung mengambil keputusan “mundur” ketimbang “maju.” Orang yang dikuasai oleh pesimisme ketimbang optimisme, adalah orang yang lebih fokus melihat tantangan daripada kesempatan yang dimiliki. Orang yang demikian diibaratkan seperti orang yang telah kalah duluan sebelum berperang. Tentu saja, orang yang demikian juga telah membuang banyak peluang-peluang untuk meraih kemajuan, dan bahkan membuang peluang untuk mengalami hidup yang diberkati Tuhan dan melihat atau mengalami kuasa dan penyertaan Tuhan.

3. Tidak berani melangkah maju karena terkurung oleh fakta “buruk” pada masa lalu dan masa kini.

Konsep gambar diri yang Musa ciptakan sendiri, telah berakar kuat di dalam hidup Musa serta membentuk kepribadian dan karakternya. Musa kembali berdalih atas panggilan Tuhan. “Ah Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak, dan sejak engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak” (3:10) dalam hal ini jelas bahwa Musa terkurung pada fakta masa lalu dan keberadaannya pada saat itu, sehingga dia kuatir untuk melangkah maju ke depan. Barangkali, Musa melihat sejarah masa lalu kelam ketika Ia masih berada di Mesir, yang diawali dengan suatu hidup dan posisi yang cukup baik di kerajaan Mesir bersama Firaun, namun akhirnya ia harus meninggalkan semuanya setelah ia melakukan pembunuhan dan melarikan diri dari Mesir. Dari seorang pangeran, berubah menjadi seorang pelarian. Bukan itu saja, Musa juga terkurung oleh fakta keadaan masa kini (pada saat itu), dimana dia melihat dirinya hanyalah seorang gembala, yang pada jaman itu dipandang sebagai suatu pekerjaan yang rendah atau hina. Itu sebabnya, ia terus berdalih dari panggilan Tuhan, bagaimana mungkin seorang yang hina, rusak, dan memiliki masa lalu kelam dapat dipakai oleh Allah?
Manusia kadangkala menilai proyeksi kemajuan atau keberhasilan perjalanan dan pelayanan hidup seseorang berdasarkan catatan sejarahnya. Tak sedikit pesimisme muncul justru karena manusia lebih berkutat kepada sejarah kegagalan masa lalu maupun masa kini. Orang yang menyandarkan dirinya pada kelemahan atau kegagalan di masa lalu maupun masa kini, sulit untuk melangkah maju ke depan dan menatap rencana Tuhan yang indah. Oleh sebab itu, Kita perlu belajar berani melangkah maju dengan mata iman, mata yang mengimani sejarah pertolongan dan Kuasa Allah dalam kehidupan manusia, ketimbang melihat sejarah masa lalu atau masa kini yang buruk yang dialaminya. Jangan biarkan sejarah masa lalu maupun masa kini menjadi batu sandungan bagi kita dalam melangkah.
Allah tidak dibatasi kelemahan manusia untuk menggenapi rencanaNya bagi saudara dan saya.

Ada beberapa hal yang perlu kita yakini dan lakukan agar kita dapat melihat dan menjadikan kelemahan sebagai batu loncatan dalam perjalanan hidup kita sebagai orang percaya. Pertama, menerima dan mensyukuri kelemahan yang Tuhan ijinkan untuk menjadi bagian hidup kita (2 Korintus 12:9-10) Kedua, ubah cara pandang kita mengenai diri kita menurut cara pandang Allah, bukan cara pandang kita, dunia, atau bahkan iblis (Kel. 4:11). Allah yang menciptakan kita dengan segala kelebihan dan kelemahan, itu baik dimata-Nya dan akan dipakai-Nya untuk kemuliaan-Nya. Ketiga, mengimani firman-Nya dan janji-Nya (Kel 3:12; 4:12), dan bukan bertumpu pada kelemahan atau sejarah kegagalan kita. Keempat, ambil keputusan untuk maju dan melangkah dengan Iman (Kel 4:18-20).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.