Perdagangan dan perbudakan manusia dalam bentuk apapun adalah tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kita mungkin berpikir bahwa pemicunya adalah kemiskinan, sehingga ada banyak orang mau diperkerjakan secara tidak manusiawi; upah yang kecil dengan jam kerja yang berlebihan; memperkerjakan anak di bawah umur (sebagai PRT), misalnya. Pemicu selain kemiskinan adalah pernikahan dan perceraian di usia muda, yang mendorong perempuan-perempuan untuk bekerja, serta minimnya informasi dan pemahaman tentang perdagangan orang terutama di wilayah-wilayah terpencil. Itu sebabnya, persoalan ini menjadi tanggungjawab bersama.

Kita semua harus mengingat bahwa kita adalah ciptaan Allah. Kita harus takut akan Allah dan mengasihi-Nya, sehingga kita tidak melukai dan membahayakan hidup sesama, tetapi menolong dan bersahabat dengan mereka dalam setiap kebutuhan dan bahaya hidup dan tubuh mereka (Hukum Taurat V – versi Luther atau Hukum Taurat VI – versi Nommensen).  Allah melarang kita untuk menyakiti atau melukai sesama kita secara fisik, yaitu berbuat atau mengatakan sesuatu yang bisa menghancurkan, memperpendek, atau membuat hidup sesama kita menjadi pahit (Ul. 32:39; Rm. 12:19). Kisah Alkitab contohnya saudara-saudara Yusuf menyakiti Yusuf dan membuat pahit hidup ayah mereka dengan kejahatan mereka (Kej. 37:23-35), serta orang-orang Mesir yang memperkerjakan secara paksa anak-anak Israel (Kel. 1).

Sejarah perdagangan budak dan perbudakan telah menciptakan kepahitan. Itu sebabnya UNESCO menjadikan tanggal 23 Agustus sebagai Hari Internasional untuk Mengenang Perdagangan Budak dan Penghapusan Perbudakan, untuk memberikan penghargaan kepada semua orang yang berjuang untuk kebebasan dari perbudakan. Hal ini dimaksudkan untuk membangun dunia yang lebih baik dan untuk menunjukkan hubungan historis dan moral yang menyatukan bangsa yang berbeda.

Itu sebabnya pula, Allah, dalam anugerah dan rahmat-Nya yang kaya, mengadakan keselamatan bagi kita dari sebelum dunia dijadikan. Kita telah diperbudak oleh Iblis dan dibelenggu oleh dosa sejak kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa. Adam ingin membebaskan dirinya dari Firman Tuhan, sehingga ia memperbudak dirinya sendiri untuk berbuat dosa, bagi kematian, dan Iblis. Rojas (2016) dalam tulisannya di steadfastlutherans.org mengatakan bahwa kita tidak dapat dengan alasan atau kekuatan kita   sendiri mempercayai Yesus atau datang kepada-Nya, “Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan, dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” (Galatia 4:45). Terlebih lagi, ketika Dia menemukan kita dimiliki oleh Iblis dan berada di bawah kuasa dosa, Dia membeli kita, bukan dengan emas atau perak, tetapi dengan darah-Nya yang kudus dan berharga dan dengan penderitaan dan kematian-Nya yang tidak bersalah, dan pahit sehingga kita bisa menjadi milik-Nya sendiri. Dia membebaskan kita dengan membayar upah dosa kita: kematian duniawi dan kekal. Dia melakukan ini sehingga kita tidak lagi akan diperbudak oleh dosa, kematian, dan Iblis, tetapi milik dan hidup bersama Allah selamanya. Dia membasuh noda dosa dari hati dan tangan kita dalam baptisan, dan Dia memanggil kita keluar dari kegelapan dengan Firman-Nya. Sebelum kita dapat memilih Dia, Dia memilih kita. Sebelum kita dapat melakukan pekerjaan baik apa pun, Dia menyelesaikan Pekerjaan Keselamatan yang baik sebagai pengganti kita. Allah, dalam hidup-Nya, dengan bebas memilih hanya yang baik, dan dengan bebas pula Dia memperhitungkan semua perbuatan baik ini untuk kita (Rojas, 2016).

Sekarang kita tahu bahwa kita adalah orang-orang yang telah dibebaskan dari perbudakan Iblis yang mengikat kita dalam dosa, dan Allah sendiri sebagai Pencipta kita, tidak menginginkan kita terjerumus ke dalam perbudakan; oleh dosa dan terhadap sesama kita sendiri. Terimalah hikmat yang dari Allah untuk dapat membangun dunia yang lebih baik tanpa perbudakan. Kasihilah seorang terhadap yang lain, pedulilah terhadap sesama kita, dan awasilah supaya tidak ada lagi yang memberikan dirinya melanggar Firman Tuhan dan menyakiti sesamanya.

 

Penulis : Sabrina Manalu

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berkenalan dengan Jangkar KehidupanKarena mengenal satu sama lain itu indah.